Eva Chan
Senin, 08 Februari 2016
Senin, 30 November 2015
cerpen keren cinta yang pupus
CINTA YANG PUPUS
Oleh:
EVA HANIFAH (13100064)*
*Program Studi Ilmu Al-Qur’an
dan Tafsir
Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan
Pandanaran Yogyakarta
“Mama…
aku lulus..!” teriakku pada mama tercinta, tak pernah kukira aku benar-benar tak akan pernah kuinjakkan lagi kakiku
lagi di sekolah ini. Sejak kelulusan SMP
aku mulai tertarik pada b.arab, disinilah aku mulai ingin menimba dan menggali
segala kompetensi yang aku miliki di tempat suci ini.
Darul Lughah Islamic Center, yang terletak di sebuah desa.
jauh dari tempat bersejarah ku bahkan, beda kabupaten. ia inilah tempat
bersejarahku yang baru, yang akan kulalui hingga tiga tahun mendatang. Disini
aku akan membuka bibirku dan menyuarakannya dengan bahasa arab. Aku tak
mengerti, bisakah diriku melakukan hal ini?.
Dua tahun telah berlalu, masa kenak-kanakanku
benar-benar ingin ku lemparkan ke laut biru sana, tapi aku tak kuasa
melakukannya, hanya sedikit demi sedikit saja mungkin aku akan bisa, tuhan
bantu aku. Namun, setahun yang kelam, aku di angkat untuk selalu memberi contoh
yang baik kepada semua thalibat disekitarku. Aku pun, bingung dengan hal ini,
karena aku sendiri tak bisa menjaga diriku dengan baik.
Ramai, kudengar suara-suara yang sedang
bermuhadatsah[1]
dengan bahasa arab, ia itulah tempat yang sangat menyenangkan, menyedihkan
terkadang dan cukup membuat diriku bersemangat dalam mencari ilmu.
Semua thalibat yang telah lama kukenal sejak
dua tahun yang lalu kini semakin bertambah dari hari kehari. Suasana ini
membuatku senang. Begitupun sehabatku, muallimah juga uswatun. Sebut saja
mereka lim dan uus. Aku sayang mereka sama halnya mereka menyayangi diriku.
Akupun tak pernah lelah berteman bersama mereka meskipun, terkadang kita sering
bertengkar. Yang aku lelahkan di ma’had ini saat peraturan yang dirubah setiap
saat.
“Huft capek kalau cara kita seperti ini, mending
kita ngelanggar aja dech, meskipun kita juga pengurus,!” keluhku, “tapi tak
apalah vha, anggap aja ini adalah sebuah rintangan yang harus kita lalui” lim
menyanggahku. Sedang uus hanya menggeleng-gelengkan kepalanya..
“Yaudah dech temen-temen kita tidur aja dech
besok kan kita harus sekolah” uus membuka mulutnya, ” owh oke dech” serentak
aku dan lim menjewabnya. Inilah percakapan kami sebelum kami memejamkan mata.
@ @ @
“Bangun-bangun” uus bergegas untuk membangunkanku dan lim,
“ya” jawabku. Lalu, kami bersama-sama pergi ke hammam[2]
mengambil wudhu’, kemudian, kami berjama’ah bersama di mushalla, namun,
ternyata kami telat. “yach… gara-gara kamu nich vha, kita kan jadi telat” keluh
lim, “yach,,, di ta’dzir[3]
dech” uus-pun mengeluhkannya, karena kami sama-sama tak ingin di ta’dzir. Huuu
ya capeknya jika kami benar-benar dita’dzir karena ta’dzirannya bukan main,
membaca surat At-taubah berdiri di siang hari, serta diumumkan oleh mudzir
ma’had[4]
didepan semua santri. Baik thullab maupun thalibat. Waduch, malu dech.! Kata
hatiku saat itu.
“Ya udah maaf deh” sesalku. Mereka hanya
mengangguk dan menerima semua yang akan terjadi. 04:45, tepat. Kami
bersiap-siap untuk ta’lim[5].
Tet… Tet… bel berbunyi yang bertanda
bahwa ta’lim akan benar-benar dimulai.
“Lari..” teriakku agar tak terlambat. “Hufh akhirnya
kita gak terlambat juga” . bibirku berkata saat telah sampai di tempat dengan
terengah engah. Untung ditahun ini kelas kita sama, andai saja kita tak bersama
seperti dulu mungkin, aku tak bisa merasakan hal yang terindah dalam hidupku.
Akhirnya taklim selesai juga, kitapun
bersiap-siap untuk berangkat sekolah, mandi bertiga, makan bertiga, berangkat
bertiga, intinya kemana-manapun kita bertiga terus. Sampai semua teman-teman
yang lain memanggil kita trio ‘wek-wek’ ih… jijik banget, aku malah paling gak
suka di panggil itu.
06:35 kita pasti berangkat ke sekolah
bersama-sama. Karena kita wajib sampai kesekolah tepat pada jam 06:50. Karena
peraturan pada jam itu diwajibkan membaca al—qur’an bersama-sama dikelas.
Inilah yang harus kulalui setiap hari. Lelah, jenuh dan membosankan namun, aku
harus tetap bersemangat karena, memang inilah yang harus aku lalui.
Bahagia, sudah pasti. Ketertarikan akan selalu
berada di penjara suci ini. Karena aku akan bertemu pujaan hatiku. Inilah sisi kesenaganku saat beajar, akan
bertemu dengannya. Ia tersimpan sudah lama dalam jiwaku, sejak aku mualai
menimba ilmu di pesantren ini, aku tau dia sejak kelas satu aliyah, tapi,
sebelumnya aku membecinya sangat membencinya. Mungkin karena semua
teman-temanku selalu gojlokin aku dengannya, aku jadi tertarik juga. Malu
dech.. gumamku.
aku
selalu senang didekatnya, meskipun aku tak pernah berbicara dengannya, aku
malulah jika aku harus bercakap-cakap padanya, serasa ingin berada didekatnya
dan selalu bersamanya. Namun, karena sekolah dibawah naungan pesantren. Jadi,
kata trennya sih pacaran, itulah hal sangat dilarang. Jadi kita tak pernah
bersama-sama. Ya… walau ada juga yang dekat dengannya.
Jarum jam pun berputar begitu cepat, sunyi,
sepi, dan hening pun terasa dalam benakku. Dan tiba-tiba “Vha?” hah? Kaget, aku
pun bertanya-tanya siapakah yang memanggilku? Sepertinya aku kenal siapa dia.
Ternyata benar ia memanggilku, akupun menatap matanya begitu lama, matanya yang indah serta menunjukkan
kesungguhan cintanya padaku, mungkin, hehe..
hati kecilku, “ada apa” hampir aku lupa bahwa ia tadi memanggilku.
“Ia ivan, kau memanggilku kah?” jawabku dengan
gugup. Aku pun penasaran apa yang ia ingin tanyakan.
“Oea kemaren pas mosba ngabisin berapa?
Kira-kira masih ada sisa ngak?” tanyanya dengan agak malu, karena ia jarang
berbincang denganku, ya kecuali mengenai hal penting saja. Oia aku baru ingat
bahwa ia adalah atasanku, ia sekretaris dalam osis dan aku adalah seorang
bendahara dalam organisasi ini, makanya aku tambah dekat dan kenal dia.
“Owh.. ya, tapi aku gak bawa bukunya, ntar aku
hubungi lewat hp pondok ya, emang mau dibuat apa van?” Tanyaku dengan hati agak
senang, sedikit.
“gak dibuat apa-apa kok aku Cuma pengen tau
aja, soalnya pak jun tadi tanya”
“Ya, aku hubungi kamu aja ya,,, tunggu ja”
Panas akan terasa dingin, seluruh keringat yang
berlumuran di sekujur tubuhku tiba-tiba menghilang begitu saja. Ivan, andai kau
tau isi seluruh hatiku ini, mungkin kau tak akan berhenti mengusap pipimu,
namun, entahlah! Biarlah ia tahu sendiri.
Lambat laun, suasana yang tak pernah ingin aku
lalui, ternyata telah berlalu. Namun, akhirnya aku dan ivan akan melalui jalan
satu arah. tuhan, apakah ini mimpi?.
“Shivha?” dengan nada kaku.
“Ia ivan ada apa?” sautku. Inikah malaikatku?
Apakah tuhan mendengarkan doaku? Iyakah ini ? sungguh, di atas mimbarlah aku
akan terasa gugup, diatas panggunglah aku akan tersipu malu, didepan kelaslah
aku akan di serang kawan-kawan ku. Namun, impianku berbeda, hati kecilku
berkata ‘tidak’. Akankah ivan ingin berkata lebih serius?. Tanyaku tanpa henti.
“lihat mataku”. Shet, serentak kami berhenti. Memandang wajahya begitu
cerah, indah, sulit ku alihkan pandangan ini darinya, bahkan, iapun menyamaiku.
“kamu tau hati ku? Kamu perasaanku? Taukah
kesungguhanku padamu vha?, taukan, dari dulu sudah kukatakan padamu, aku sayang
kamu, kau pun tak pernah lepas dari pikiranku!” bibir mungilnya pun, akhirnya
melontarkan semua curahan hati kecinya.
Aku lumpuh, bibirku kaku, bingung, semuanya
kini tiba didepan bola mata mungilku, dan hanya bisa “ia, aku tau, lantas apa
yang kamu inginkan dari ku”
“bisakah kau simpan hatimu untukku kelak,?”
“apa yang akan kamu lakukan jika aku bisa?”
Tanyaku serius.
“Jadilah teman hidupku vha!” ajaknya.
Detik ini, tak kuasa aku gambarkan suasana
seperti apa? Dag-dig-dug, jantungku bedetak begitu kencang, “ia aku mau, asal
kamu juga harus bisa menjaga perasaanku sebagai wanita”.
“oke aku janji vha”. Ikrarnya, “aku harap kau
bisa mengerti” jawabku.
Kulangkahkan kakiku tanpa henti, ingin ku
berlari dari pandangannya, namun, aku tak mampu.
Akhirnya aku tiba di penjara suci lagi,
aktivitas kujalankan seperti biasa. Tak kuasa kutahan bendungan mutiara di
mataku ini. Kuteteskan juga, bukan berarti aku marah, aku senang mengalami hal
tadi dengannya.
“Vha,,,! Lima tabassamti miraran mundu anif..?
” tanya lim dari belakang. “Ekhem-ekhem,,, cie-cie.,,,” sambung uus.
“Udah udah mba’, yuk kita taklim ajalah.. ntar telat lho…”
ajakku juga mengalingkan pembicaraanku karena malu.
@ @ @
Detik demi detik telah kulalui, waktu berjalan
begitu cepat, hari-hari kulalaui seperti biasanya, hingga tepat pada jam 23:30,
pikiranku tak pernah lepas tentangnya, ternyata begitu indah akhirnya 2tahun
lamanya pangeran yang telah lama aku nanti dan yang selalu hadir dalam lelapku
kini, datang begitu saja. Membawa berjuta-juta pintu yang memanjakanku untuk
merasa gembira setiap saat.
Haqqan, uhibbuka fillah ivan, insyaAllah!,
tuturku dalam hati. Hm. Hingga kupejamkan mataku dengan penuh harapan tuk
berjumpa dengannya. Nice dream.
@ @ @
“Istaiqhidna ukh,” ia suara itu tak asing lagi
digendangku, oia aku baru ingat, itu suara para pengurus. Setiap ahdzan akan
berkumandang, dengan pasti para pengurus ma’had ini saling membangunkan
thalibat untuk sshalat berjama’ah. Terutama shalat subuh.
Taklim, telah berlalu di pagi yang cerah ini,
tiba-tiba mudzirku memberitahukan bahwa, minggu depan kita semua akan pulangan.
Yes ! teriakku dalam majlis. Upz.. aku hampir lupa. “Heh,!” uus menegurku
dengan seram. “Ya, afwan,!” jawabku.
@ @ @
“Seanggun warna senja menyapa, bersambut musim
yang dijalani semoga bintang penuh harapan, menggugah rasa rasa tuk ingin
selalu bersamanya…! Oow,,,ow,,o,,” sengaja ku lantunkan suara lembutku dalam
kesunyian ini. Hm,,, andai ivan di sampingku.
“Aku senang akan pulang, juga sedih mb us, kita
kan akan pulang, dan yang pasti aku akan lama tak bertemu ivanku,,” keluhku
pada uus, yang tiba-tiba muncul didepanku dengan senyuman manisnya.
“Ia dek, aku ngerti,,, udahlah sabar aja, ntar
kan anti bisa hubungi dia,” mencoba menenagkan keresahanku. “oke dech”,
senyumku.
@ @ @
“Hore…! Mama,,, abah, aku
datang,,!”. Ia, 15 januari 2013, aku benar-benar kembali ke tempat bersejarahku
ini, menatap pintu rumah yang begitu indah pun, dihiasi dengan ukiran-ukiran
yang begitu sulit kutebak, sempat hatiku menimbulkan pertanyaan. Apakah ukiran
itu?.
“Iya vha,!” ia, jawaban itu yang
kunanti dari tadi. Mama, seorang bunda yang sangat kusayangi dari dulu dan
ialah yang bisa buat aku tenang dalam menghadapi setiap masalahku. ‘Syukran
mama’, gumamku dalam hati.
“Kamu dah pulang nak?” mama membuka
pembicaraan, serta mengajakku kedalam ruangan itu. Kamipun bercakap-cakap
basa-basi.
Aku senang bertemu mama dan aba,
yang mungkin merekapun menanti kehadiranku, entah, karena rindu atau baggaimana
aku bingung.
@ @ @
Kutarik nafas sedalam mungkin,
menghirup segarnya suasana akan terbitnya matahari, Kicauan burung pun
seakan-akan menyapaku, yang telah lama kunanti selama aku bersama teman-teanku
disana. Maha besar Tuhan telah menciptakan alam dan seisinya ini, tugas kita
hanyalah bersyukur tiada henti.
“Shivha, shivha,,,” teriak mama
memanggilku, “ia ma”, akupun mendatanginya. Lalu mama melebarkan bibirnya
dengan manis. Sungguh indahnya.
“Shivha”, mama mengawali pembicaraan
ini, tegang rasanya. Melihat mama yang begitu serius.
“Ia ma, ada apa e?”,
“vha, dengarkan mama berbicara, diam nak, dan
jangan membantah ya.”, pintanya. Aku mengangguk.
“Ridahallahu fie ridhal walidaien, washuhtullah
fie shuhtil walidaien, kamu
tau tentang ini kan vha, kamu ikut ya nak apa yang abamu katakan nanti. Sana
nak, pergi ke abah. Ia memanggilmu dan ingin berbicara sebentar pada padamu.”
Apasih maksudnya semua ini? Sungguh aku
bertanya-tanya, namun, akau hanya bisa terdiam.
“Vha, kemarin ada seseorang yang datang untuk
meminagmu, sungguh aku pikir kau telah pantas
untuk mendapatkan hal ini. Lagi pula dirimu sudah dewasa. Besok acaranya
ya, kamu persiapkan dirimu nak, maafkan aba. Aba gak bisa menolak”. Tuturnya
dengan mubasyarah tanpa ada basa-basi.
Ivan, ia
ivan. Bagaimana dengan dirinya tuhan?
Ingatanku pada ivan begitu kuat. akhirnya kuteteskan jua bendungan air mataku
yang tak kuasa tuk kutahan. kakiku kaku, aku ingin merangkul ivan dan
mengeluarkan seluruh amarahku ini. Namun, aku tak bisa.
Tiba-tiba mama mengahampiri dan memelukku dan
mencoba tuk menenagkanku. “Sabar nak, jangan bantah peraturan. Yang namanya
perajurit harus patuh pada atasan, meskipun itu salah menurutmu”.
“Aba jahat ma, apa salah shivha? Shivha benci
aba ma, shivha masih ingin seneng-seneng ma, bukan sengsara kaya ini. Ini akan
menyiksa batinku. Mama.. aku harus gimana?” tangisku dengan nada yang tinggi.
Gila, aku benar-benar gila. Mengapa hal ini
harus terjadi padaku. Apa salahku tuhan..? please help me. Apa yang harus aku katakan
padanya tuhan?. Aku tak suka semua rencana ini. Dert,, dert.. nada handphoneku
berdering, ku angkat. Dan ternyata ia pujaanku. Ivan, aduch.. aku bingung apa
yang harus kukatakan. Mencoba tenang dan “assalamualaikum.” Ia mulai.
“Waalaikasslam, ivan”
“Kaifa hauk ukhti?”
“Alhamdulillah bikhoir, yumkin bibarokati
dua’ik”
“Subhanallah Alhamdulillah, shivha aku ingin
ngomong sesuatu, boleh?”
“Ada apa ivan”, dengan agak ragu. “Ia boleh
tafadhol”
“Begini vha, aku telah berbicara panjang dengan
orangtuaku tentang perasaanku padamu”. Ya ampun tubuhku bergemetar dengan tiba-tiba.
“Terus vha, seluruh keluargaku sudah setuju
akan pertungan kita nanti, bagaimana vha? Kamu siapkan? besok aku kerumahmu
tepat jam 8:00pagi”.
Aku pencet tombol merah itu, bukan karna aku
telah muak mendengarkan suara ivan, namun, aku tak kuasa menahan semuanya.
Maafkan aku ivan, gumamku. Tiap detik dengan tanpa henti, kuteteskan air mataku,
bibirku selalu bergerak tanpa henti, dengan rasa kebingungan. Seakan-akan aku
berada di gelapnya dunia.
Pagipun tiba, detik mulai berjalan dengan
cepat, jarum jampun mengahntuiku, teng.! Tepat jam 8:00. Tok tok tok, ya tuhan
ia diakah ?
Tiba-tiba, mama membukakan pintu itu, sengaja
ia lebarkan bibirnya untuk mama, dan melangkah secara perlahan. “Silahkan
duduk” mama mengawali pembicaraan itu. “ibu, saya ivan teman shivha, bisakah
saya bertemu ayah shivha?”
“ia nak, bisa tunggu ibu panggilkan dulu ya..!
Ayahpun datang menghampiri tamu-tamunya itu,
tanpa basa-basi ayah ivan langsung
berbicara secara inti. “maaf pak sebelumnya, ini ivan temennya shivha, ia telah
lama menyukai shivha. Kedatangan kami kesini hanya satu, yaitu melamar shivha
anak bapak!” dengan percaya diri ia menyampaikannya.
Tiba-tiba ekspresi ayah sangat tidak nyaman
diihat, ia bingung harus bagaimana, “maaf pak, dengan sangat hormat saya
memohon maaf pada anda bahwa anak saya kemaren sudah dilamar orang, maafkan
kami pak”...!
“Ia
pak, santai aja, ivan juga sudah punya cadangan lain....”
“Oh,,
begitukah?”
“Iya
pak, ya sudahlah kami pulang ya, kami ada acara jam 10:00.”
“Ya
monggo... “
Dengan
sedih hati mereka pulang, bapak ivan serta ivan mungkin sangat malu dan kecewa,
tapi bagaimana lagi? Entahlah,,, mungkin keadaannya memang harus sepert ini.
Tak lama kemudian, sebuah ponsel
dengan layar lebarnya berdering sangat kencang, saat kulihat ternyata ia Ivan.
Minggu, 11 Oktober 2015
muhkam mutasyabih
AL-MUKHKAM dan
AL-MUTASYABIH
Perspektif Ulama’ Konvensional, Imam
Jalaluddin As-Suyuti,
Muhammad Syahrur dan Abed Al-Jabiri
Oleh: Eva Hanifah
Program Studi
Al-Qur’an dan Tafsir
Mahasiswa
Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran
Pandangan Imam Jalaluddin As-Suyuti dalam Kitab Al-Itqan
Imam Ibnu an
Naisaburi dalam kitab al-itqan tentang Mukhkam Mutasyabih dalam Al-Quran
terdapat dua permasalahan:
Pertama, semua ayat dalam Al-Qur’an adalah mukhkam. Seperti yang terdapat
pada (Q.S Hud: 1).
الَر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ
حَكِيمٍ خَبِيرٍ {1}
Alif
Laam Raa',(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta
dijelaskan secara terperinci , yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha
Bijaksana lagi Maha Tahu,(QS.11:1)
ð
Penjelasan
dalam ayat diatas أُحْكِمَتْ
آيَاتُهُ merupakan konsep dasar yang dijelaskan secara rinci, jelas
dan detail. Agar dapat memahami isi kandungan ayat Muhkam, dan tidak lagi
membutuhkan pengulangan dan pemahaman yang mendetail.
ð
Allah
juga tidak bermaksud menyatakan tentang sebuah kitab yang mencakup seluruh
ayat-ayat dalam al-qur’an, namun yang dimaksud allah adalah kumpulan dari
ayat-ayat mukhkamat saja.
Kedua, semua ayat di al-qur’an adalah mutasyabihat, seperti yang
terdapat dalam (Q.S Az-Zumar: 23).
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا
مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ
تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ
يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ {23}
Allah
telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa
yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada
seorangpun pemberi petunjuk baginya.(QS.39:23)
ð
Maksud
dari ayat diatas pada lafadz
كتابا متشابها bahwasanya ayat Mutasyabbih adalah ayat yang bersifat umum.
Mutasyabbih bisa juga diartikan sebagai ayat yang bersifat ambigu atau “mutaradif”.
Dimana dalam hal ini dibutuhkan berbagai kajian ilmu lain untuk dapat
memahaminya secara jelas dan tidak mudah untuk memahami jika hanya dipelajari
sekali saja. Namun, harus berulang-ulang karena untuk pemahaman ini rumit dan
sulit karena butuh pen-ta’wilan dari ayat lain.
ð
Allah
juga tidak bermaksud menyebut kandungan al-qur’an secara keseluruhan, tetapi
hanyalah kandungan dalam ayat-ayat mutasyabihat.
Al-Mawardi,
muhkam adalah sebuah makna yang logis atau dapat diterima oleh akal, sedangkan
mutasyabih lawan dari muhkam yang mana dapat diartikan dengan sebuah makna yang
tidak logis. Misalnya, jumlah bilangan shalat, pengkhususan bulan ramadhan
sebagai bulan yang diwajibkan untuk berpuasa bukan bulan sya’ban.
Imam Malik, Ia sedikit dan keras dalam
menghadapi pemikiran-pemikiran yang tumbuh berkenaan dengan adanya ayat Mutasyabbih.
Zaman Imam Malik lebih banyak yang mengikuti pemahaman pada masa Sahabat dan
tabi’in, yang mana hal itu cukup mengimani dan mempercayainya tanpa
mempersoalkannya.
Pandangan Muhammad Shahrur
هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ
مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ
في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ
وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ
رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ {7}
Dia-lah
yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada
ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain
(ayat-ayat) mutasyaabihaat . Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong
kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat
untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada
yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam
ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat,
semuanya itu dari sisi Rabb kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran
(dari padanya).
Ayat diatas terdapat beberapa penjelasan, diantaranya: pertama,
Al-Kitab Al-Muhkam, yaitu adalah sebuah kitab yang berisi
kumpulan-kumpulan dari seluruh ayat-ayat yang Muhkamat, secara khusus
didefinisikan sebgai umm al kitab (kitab induk) sebgaimana yang terdapat dalam
redaksi مِنْهُ
آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ
karena umm al-kitab hanyalah sebuah istilah ,
maka ia dapat didefinisikan sebagai kumpulan-kumpulan ayat Muhkamat. Dan
istilah tersebut perlu dijelaskan oleh definisi-definisi tertentu.
Kedua, setelah kita teliti dengan detail
ayat-ayat Muhkamat, ternyata masih menyisakan sebuah al-kitab yang
terdiri dari dua buah kitab yaitu, kitab al-Mutasyabih dan yang kedua
adalah kitab yang bisa kita katakan aneh, karena ia adalah sebuah kitab yang
jenisnya bukan Muhkam dan bukan pula Mutasyabih. Keberadaan dari
jenis kitab tersebut dapat dilihat pula dalam ayat diatas yang berbunyi وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ dan ia tidak berbunyi والخر متشابهات
hal ini
mengandung pengertian bahwa ayat-ayat yang tidak Mukhkam itu terdiri
dari ayat-ayat yang mutasyabihat dan bagian lain yang tidak muhkam ddan
sekaligus tidak Mutasyabih.
Ayat
yang muhkamaat ialah
ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dan dapat dipahami dengan mudah. dan yang Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat
adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan
arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki atau diteliti secara
mendalam. atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti
ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang
mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
Jadi, dapat dipahami dari penjelasan ayat
diatas bahwa, Semua isi ayat Al-Qur’an tidak dapat ditakwilkan secara sempurna,
hanya Allahlah yang dapat mengetahui makna
asli yang dikandung oleh ayat-ayat tersebutkarena ialah sang pencipta segalanya
sekaligus kalamnya sendiri. Ia juga berpendapat bahwa Nabi Muhammad memiliki
Risalah kenabian dan kerasulan. Yakni, ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi
Nabi (Nubuwwahnya) yang berupa al-‘ulum dan al-‘ulum itu sendiri
bersifat mutasyabbihat. Sedangkan dari jalur Kerasulan (Risalah) memunculkan
adanya Hukum-hukum yang kemudian menjadi Muhkamat.
Prinsip
Nubuwwah menurut muhammad sahrur bersifat pengetahuan objektif, sedangkan
prinsip Risalah bersifat hukum Subjektif. Kumpulan ayat-ayat Muhkamat adalah
kumpulan-kumpulan hukum yang disampaikan Nabi Muhammad yang di dalamnya berisi prinsip-prinsip
perilaku manusia, yang berupa berupa ibadah, muamalah, dan hal-hal yang berhubungan
dengan risalahnya.
konsep
mutasyabbihat jika dikaitkan dengan konsep Nubuwwah Nabi Muhammad, maka
mengandung ilmu pengetahuan yang bersifat objektif. Mutasyabbihat
mencakup tentang alam semesta dan hukum sejarah yang berfungsi sebagai pembeda
antara yang haq dan yang bathil. Jika Muhkamat berfungsi sebagai pembeda antara yang halal dan yang haram. Namun,
Mutasyabbihat ini adalah kumpulan seluruh hakikat yang diberikan Allah
kepada nabi Muhammad yang sebagian besar bersifat (ghaib) yakni hal-hal yang
belum diketahui manusia dalam al-Qur’an.
Muhkam dan Mutasyabbih Perspektif M. Abed Al-Jabiri dalam kitab Fahmul Qur’an
Seorang Nasrani dari Bani Najran Mendebat Baginda Nabi (konteks
Mutasyabih dan Muhkam)
Seorang utusan
dari Nasrani mendatangi Nabi lalu mendebat beliau mengenai kebenaran ketuhanan
Isa sebagai putra Allah. Utusan itu berpendapat bahwa ketuhanan Isa, selain
dibenarkan didalam kitab suci mereka sekarang dan dua kitab lain (Zabur dan
Taurat), juga didukung oleh ayat Al-Qur’an. Banyak Al-Qur’an yang menerangkan
dhamir yang disandarkan kepada Dzatullah
tidak berbentuk dhamir tunggal, akan tetapi menggunakan dhamir Jama’; seperti
lafad فعلنا,أمرنا,خلقنا. Menurut utusan tersebut, bahwa ayat yang menggunakan
dhamir jama’ untuk disandarkan kepada Dzatullah
menunjukkan bahwa tuhan benar-benar tidak hanya satu, tapi lebih dan Isa
termasuk salah satu tuhan selain Allah di dalam dhamir jama’ itu.
Mereka juga mengatakan bahwa terdapat ayat yang mendukung trilogy
ketuhanan mereka, yakni ayat-ayat Mutasyabih, yaitu pada surat Maryam ayat 17,
At Tahrim ayat 12, dan Al Baqarah ayat 253. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa Isa
ialah bagian daripada Allah yang direpresentasikan dalam bentuk manusia dengan
perantara jibril yang meniupkan ruhullah
itu ke dalam rahim Maryam.
Nabi
menolak pernyataan para utusan Nasrani itu. Beliau mengatakan “bagaimana
mungkin tuhan memiliki anak?” Lalu utusan Nasrani itu bertanya kembali kepada
beliau “lalu siapakah ayah ISA?” Nabi
terdiam dan tidak menjawab pertanyaan mereka hingga sampai turunnya wahyu yang menerangkan
tentang hal itu pada surat Ali Imran, lalu nabi mengundang mereka ke Mubahalah untuk menyampaikan wahyu Allah
yang diturunkan untuk menjawab pertanyaan utusan Nasrani itu.
Abed Al JAbiri mengatakan, ini juga sebagaimana yang diungkapkan Nabi
kepada para utusan Nasrani itu, bahwa untuk memberikan Analogi/qiyas atas ayat-ayat mutasyabih
tersebut, juga kepada ayat mutasyabih lainnya secara umum, antara sesuatu dan
sesuatu yang dianalogikan atasnya haruslah sama atau serupa (mutamatsilain); jika menganalogikan
seseorang maka harus dengan orang, tidak mungkin benar jika Tuhan dianalogikan
dengan manusia, posisi keduanya sangatlah berbeda; tuhan adalah Khaliq dan
manusia adalah Makhluk.
Nabi menjelaskan dengan ayat yang telah Allah turunkan untuk menjawab
pertanyaan utusan itu bahwa analogi yang benar tentang penciptaan Isa
dianalogikan dengan penciptaan Adam; “sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah
seperti halnya penciptaan Adam; kami
ciptakan dia dari tanah lalu kami katakana jadilah, maka jadilah (Adam) (Ali
Imran 59).” Menganai peniupan ruhullah
ke dalam rahim Maryam sehingga lahir-lah Isa dianalogikan dengan peniupan ruh
atas tanah sehingga terciptalah Adam, ini dijelaskan pada surat Shad ayat 71-72. Segala hal yang Allah
perbuat, entah penciptaan Adam dan Isa serta segala sesuatu yang tidak dapat
dicerna oleh akal, ialah dengan sifat otoritas Allah sebagaimana dijelaskan
pada banyak ayat di dalam Al-Qur’an.
Adapun ayat-ayat Muhakkamah,
sesungguhnya untuk menjelaskan segala aspek ketuhanan, sehingga seluruh manusia
dapat dengan jelas mengenal tuhannya. Sedangkan ayat Mutasyabih ialah ayat yang rumit untuk dicerna oleh akal fikiran
manusia, yang tujuannya (dalam konteks kenabian) , ialah untuk menunjukkan
tanda-tanda kebesaran dan eksistensi Allah dan untuk membenarkan kenabian
seseorang sehingga dengan adanya
kejadian yang rumit (seperti halnya penciptaan Isa) maka ummatnya dapat mempercayai
dan meyakini kenabiannya.
Langganan:
Postingan (Atom)