AL-MUKHKAM dan
AL-MUTASYABIH
Perspektif Ulama’ Konvensional, Imam
Jalaluddin As-Suyuti,
Muhammad Syahrur dan Abed Al-Jabiri
Oleh: Eva Hanifah
Program Studi
Al-Qur’an dan Tafsir
Mahasiswa
Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran
Pandangan Imam Jalaluddin As-Suyuti dalam Kitab Al-Itqan
Imam Ibnu an
Naisaburi dalam kitab al-itqan tentang Mukhkam Mutasyabih dalam Al-Quran
terdapat dua permasalahan:
Pertama, semua ayat dalam Al-Qur’an adalah mukhkam. Seperti yang terdapat
pada (Q.S Hud: 1).
الَر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ
حَكِيمٍ خَبِيرٍ {1}
Alif
Laam Raa',(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta
dijelaskan secara terperinci , yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha
Bijaksana lagi Maha Tahu,(QS.11:1)
ð
Penjelasan
dalam ayat diatas أُحْكِمَتْ
آيَاتُهُ merupakan konsep dasar yang dijelaskan secara rinci, jelas
dan detail. Agar dapat memahami isi kandungan ayat Muhkam, dan tidak lagi
membutuhkan pengulangan dan pemahaman yang mendetail.
ð
Allah
juga tidak bermaksud menyatakan tentang sebuah kitab yang mencakup seluruh
ayat-ayat dalam al-qur’an, namun yang dimaksud allah adalah kumpulan dari
ayat-ayat mukhkamat saja.
Kedua, semua ayat di al-qur’an adalah mutasyabihat, seperti yang
terdapat dalam (Q.S Az-Zumar: 23).
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا
مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ
تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ
يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ {23}
Allah
telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa
yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada
seorangpun pemberi petunjuk baginya.(QS.39:23)
ð
Maksud
dari ayat diatas pada lafadz
كتابا متشابها bahwasanya ayat Mutasyabbih adalah ayat yang bersifat umum.
Mutasyabbih bisa juga diartikan sebagai ayat yang bersifat ambigu atau “mutaradif”.
Dimana dalam hal ini dibutuhkan berbagai kajian ilmu lain untuk dapat
memahaminya secara jelas dan tidak mudah untuk memahami jika hanya dipelajari
sekali saja. Namun, harus berulang-ulang karena untuk pemahaman ini rumit dan
sulit karena butuh pen-ta’wilan dari ayat lain.
ð
Allah
juga tidak bermaksud menyebut kandungan al-qur’an secara keseluruhan, tetapi
hanyalah kandungan dalam ayat-ayat mutasyabihat.
Al-Mawardi,
muhkam adalah sebuah makna yang logis atau dapat diterima oleh akal, sedangkan
mutasyabih lawan dari muhkam yang mana dapat diartikan dengan sebuah makna yang
tidak logis. Misalnya, jumlah bilangan shalat, pengkhususan bulan ramadhan
sebagai bulan yang diwajibkan untuk berpuasa bukan bulan sya’ban.
Imam Malik, Ia sedikit dan keras dalam
menghadapi pemikiran-pemikiran yang tumbuh berkenaan dengan adanya ayat Mutasyabbih.
Zaman Imam Malik lebih banyak yang mengikuti pemahaman pada masa Sahabat dan
tabi’in, yang mana hal itu cukup mengimani dan mempercayainya tanpa
mempersoalkannya.
Pandangan Muhammad Shahrur
هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ
مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ
في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ
وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ
رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ {7}
Dia-lah
yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada
ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain
(ayat-ayat) mutasyaabihaat . Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong
kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat
untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada
yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam
ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat,
semuanya itu dari sisi Rabb kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran
(dari padanya).
Ayat diatas terdapat beberapa penjelasan, diantaranya: pertama,
Al-Kitab Al-Muhkam, yaitu adalah sebuah kitab yang berisi
kumpulan-kumpulan dari seluruh ayat-ayat yang Muhkamat, secara khusus
didefinisikan sebgai umm al kitab (kitab induk) sebgaimana yang terdapat dalam
redaksi مِنْهُ
آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ
karena umm al-kitab hanyalah sebuah istilah ,
maka ia dapat didefinisikan sebagai kumpulan-kumpulan ayat Muhkamat. Dan
istilah tersebut perlu dijelaskan oleh definisi-definisi tertentu.
Kedua, setelah kita teliti dengan detail
ayat-ayat Muhkamat, ternyata masih menyisakan sebuah al-kitab yang
terdiri dari dua buah kitab yaitu, kitab al-Mutasyabih dan yang kedua
adalah kitab yang bisa kita katakan aneh, karena ia adalah sebuah kitab yang
jenisnya bukan Muhkam dan bukan pula Mutasyabih. Keberadaan dari
jenis kitab tersebut dapat dilihat pula dalam ayat diatas yang berbunyi وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ dan ia tidak berbunyi والخر متشابهات
hal ini
mengandung pengertian bahwa ayat-ayat yang tidak Mukhkam itu terdiri
dari ayat-ayat yang mutasyabihat dan bagian lain yang tidak muhkam ddan
sekaligus tidak Mutasyabih.
Ayat
yang muhkamaat ialah
ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dan dapat dipahami dengan mudah. dan yang Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat
adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan
arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki atau diteliti secara
mendalam. atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti
ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang
mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
Jadi, dapat dipahami dari penjelasan ayat
diatas bahwa, Semua isi ayat Al-Qur’an tidak dapat ditakwilkan secara sempurna,
hanya Allahlah yang dapat mengetahui makna
asli yang dikandung oleh ayat-ayat tersebutkarena ialah sang pencipta segalanya
sekaligus kalamnya sendiri. Ia juga berpendapat bahwa Nabi Muhammad memiliki
Risalah kenabian dan kerasulan. Yakni, ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi
Nabi (Nubuwwahnya) yang berupa al-‘ulum dan al-‘ulum itu sendiri
bersifat mutasyabbihat. Sedangkan dari jalur Kerasulan (Risalah) memunculkan
adanya Hukum-hukum yang kemudian menjadi Muhkamat.
Prinsip
Nubuwwah menurut muhammad sahrur bersifat pengetahuan objektif, sedangkan
prinsip Risalah bersifat hukum Subjektif. Kumpulan ayat-ayat Muhkamat adalah
kumpulan-kumpulan hukum yang disampaikan Nabi Muhammad yang di dalamnya berisi prinsip-prinsip
perilaku manusia, yang berupa berupa ibadah, muamalah, dan hal-hal yang berhubungan
dengan risalahnya.
konsep
mutasyabbihat jika dikaitkan dengan konsep Nubuwwah Nabi Muhammad, maka
mengandung ilmu pengetahuan yang bersifat objektif. Mutasyabbihat
mencakup tentang alam semesta dan hukum sejarah yang berfungsi sebagai pembeda
antara yang haq dan yang bathil. Jika Muhkamat berfungsi sebagai pembeda antara yang halal dan yang haram. Namun,
Mutasyabbihat ini adalah kumpulan seluruh hakikat yang diberikan Allah
kepada nabi Muhammad yang sebagian besar bersifat (ghaib) yakni hal-hal yang
belum diketahui manusia dalam al-Qur’an.
Muhkam dan Mutasyabbih Perspektif M. Abed Al-Jabiri dalam kitab Fahmul Qur’an
Seorang Nasrani dari Bani Najran Mendebat Baginda Nabi (konteks
Mutasyabih dan Muhkam)
Seorang utusan
dari Nasrani mendatangi Nabi lalu mendebat beliau mengenai kebenaran ketuhanan
Isa sebagai putra Allah. Utusan itu berpendapat bahwa ketuhanan Isa, selain
dibenarkan didalam kitab suci mereka sekarang dan dua kitab lain (Zabur dan
Taurat), juga didukung oleh ayat Al-Qur’an. Banyak Al-Qur’an yang menerangkan
dhamir yang disandarkan kepada Dzatullah
tidak berbentuk dhamir tunggal, akan tetapi menggunakan dhamir Jama’; seperti
lafad فعلنا,أمرنا,خلقنا. Menurut utusan tersebut, bahwa ayat yang menggunakan
dhamir jama’ untuk disandarkan kepada Dzatullah
menunjukkan bahwa tuhan benar-benar tidak hanya satu, tapi lebih dan Isa
termasuk salah satu tuhan selain Allah di dalam dhamir jama’ itu.
Mereka juga mengatakan bahwa terdapat ayat yang mendukung trilogy
ketuhanan mereka, yakni ayat-ayat Mutasyabih, yaitu pada surat Maryam ayat 17,
At Tahrim ayat 12, dan Al Baqarah ayat 253. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa Isa
ialah bagian daripada Allah yang direpresentasikan dalam bentuk manusia dengan
perantara jibril yang meniupkan ruhullah
itu ke dalam rahim Maryam.
Nabi
menolak pernyataan para utusan Nasrani itu. Beliau mengatakan “bagaimana
mungkin tuhan memiliki anak?” Lalu utusan Nasrani itu bertanya kembali kepada
beliau “lalu siapakah ayah ISA?” Nabi
terdiam dan tidak menjawab pertanyaan mereka hingga sampai turunnya wahyu yang menerangkan
tentang hal itu pada surat Ali Imran, lalu nabi mengundang mereka ke Mubahalah untuk menyampaikan wahyu Allah
yang diturunkan untuk menjawab pertanyaan utusan Nasrani itu.
Abed Al JAbiri mengatakan, ini juga sebagaimana yang diungkapkan Nabi
kepada para utusan Nasrani itu, bahwa untuk memberikan Analogi/qiyas atas ayat-ayat mutasyabih
tersebut, juga kepada ayat mutasyabih lainnya secara umum, antara sesuatu dan
sesuatu yang dianalogikan atasnya haruslah sama atau serupa (mutamatsilain); jika menganalogikan
seseorang maka harus dengan orang, tidak mungkin benar jika Tuhan dianalogikan
dengan manusia, posisi keduanya sangatlah berbeda; tuhan adalah Khaliq dan
manusia adalah Makhluk.
Nabi menjelaskan dengan ayat yang telah Allah turunkan untuk menjawab
pertanyaan utusan itu bahwa analogi yang benar tentang penciptaan Isa
dianalogikan dengan penciptaan Adam; “sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah
seperti halnya penciptaan Adam; kami
ciptakan dia dari tanah lalu kami katakana jadilah, maka jadilah (Adam) (Ali
Imran 59).” Menganai peniupan ruhullah
ke dalam rahim Maryam sehingga lahir-lah Isa dianalogikan dengan peniupan ruh
atas tanah sehingga terciptalah Adam, ini dijelaskan pada surat Shad ayat 71-72. Segala hal yang Allah
perbuat, entah penciptaan Adam dan Isa serta segala sesuatu yang tidak dapat
dicerna oleh akal, ialah dengan sifat otoritas Allah sebagaimana dijelaskan
pada banyak ayat di dalam Al-Qur’an.
Adapun ayat-ayat Muhakkamah,
sesungguhnya untuk menjelaskan segala aspek ketuhanan, sehingga seluruh manusia
dapat dengan jelas mengenal tuhannya. Sedangkan ayat Mutasyabih ialah ayat yang rumit untuk dicerna oleh akal fikiran
manusia, yang tujuannya (dalam konteks kenabian) , ialah untuk menunjukkan
tanda-tanda kebesaran dan eksistensi Allah dan untuk membenarkan kenabian
seseorang sehingga dengan adanya
kejadian yang rumit (seperti halnya penciptaan Isa) maka ummatnya dapat mempercayai
dan meyakini kenabiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar