Minggu, 11 Oktober 2015

muhkam mutasyabih



AL-MUKHKAM dan AL-MUTASYABIH
Perspektif Ulama’ Konvensional, Imam Jalaluddin As-Suyuti,
Muhammad Syahrur dan Abed Al-Jabiri
Oleh: Eva Hanifah
Program Studi Al-Qur’an dan Tafsir
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran

Pandangan Imam Jalaluddin As-Suyuti dalam Kitab Al-Itqan
            Imam Ibnu an Naisaburi dalam kitab al-itqan tentang Mukhkam Mutasyabih dalam Al-Quran terdapat dua permasalahan:
Pertama, semua ayat dalam Al-Qur’an adalah mukhkam. Seperti yang terdapat pada (Q.S Hud: 1).
الَر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ {1}

Alif Laam Raa',(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci , yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,(QS.11:1)

ð  Penjelasan dalam ayat diatas أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ merupakan konsep dasar yang dijelaskan secara rinci, jelas dan detail. Agar dapat memahami isi kandungan ayat Muhkam, dan tidak lagi membutuhkan pengulangan dan pemahaman yang mendetail.
ð  Allah juga tidak bermaksud menyatakan tentang sebuah kitab yang mencakup seluruh ayat-ayat dalam al-qur’an, namun yang dimaksud allah adalah kumpulan dari ayat-ayat mukhkamat saja.

Kedua, semua ayat di al-qur’an adalah mutasyabihat, seperti yang terdapat dalam  (Q.S Az-Zumar: 23).

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ {23}

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.(QS.39:23)

ð  Maksud dari ayat diatas pada lafadz كتابا متشابها  bahwasanya ayat Mutasyabbih adalah ayat yang bersifat umum. Mutasyabbih bisa juga diartikan sebagai ayat yang bersifat ambigu atau “mutaradif”. Dimana dalam hal ini dibutuhkan berbagai kajian ilmu lain untuk dapat memahaminya secara jelas dan tidak mudah untuk memahami jika hanya dipelajari sekali saja. Namun, harus berulang-ulang karena untuk pemahaman ini rumit dan sulit karena butuh pen-ta’wilan dari ayat lain.
ð  Allah juga tidak bermaksud menyebut kandungan al-qur’an secara keseluruhan, tetapi hanyalah kandungan dalam ayat-ayat mutasyabihat.
Al-Mawardi, muhkam adalah sebuah makna yang logis atau dapat diterima oleh akal, sedangkan mutasyabih lawan dari muhkam yang mana dapat diartikan dengan sebuah makna yang tidak logis. Misalnya, jumlah bilangan shalat, pengkhususan bulan ramadhan sebagai bulan yang diwajibkan untuk berpuasa bukan bulan sya’ban.
Imam Malik, Ia sedikit dan keras dalam menghadapi pemikiran-pemikiran yang tumbuh berkenaan dengan adanya ayat Mutasyabbih. Zaman Imam Malik lebih banyak yang  mengikuti pemahaman pada masa Sahabat dan tabi’in, yang mana hal itu cukup mengimani dan mempercayainya tanpa mempersoalkannya.

Pandangan Muhammad Shahrur
هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ {7}
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat . Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya).
Ayat diatas terdapat beberapa penjelasan, diantaranya: pertama, Al-Kitab Al-Muhkam, yaitu adalah sebuah kitab yang berisi kumpulan-kumpulan dari seluruh ayat-ayat yang Muhkamat, secara khusus didefinisikan sebgai umm al kitab (kitab induk) sebgaimana yang terdapat dalam redaksi مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ  karena umm al-kitab hanyalah sebuah istilah , maka ia dapat didefinisikan sebagai kumpulan-kumpulan ayat Muhkamat. Dan istilah tersebut perlu dijelaskan oleh definisi-definisi tertentu.
Kedua, setelah kita teliti dengan detail ayat-ayat Muhkamat, ternyata masih menyisakan sebuah al-kitab yang terdiri dari dua buah kitab yaitu, kitab al-Mutasyabih dan yang kedua adalah kitab yang bisa kita katakan aneh, karena ia adalah sebuah kitab yang jenisnya bukan Muhkam dan bukan pula Mutasyabih. Keberadaan dari jenis kitab tersebut dapat dilihat pula dalam ayat diatas yang berbunyi وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ dan ia tidak berbunyi والخر متشابهات hal ini mengandung pengertian bahwa ayat-ayat yang tidak Mukhkam itu terdiri dari ayat-ayat yang mutasyabihat dan bagian lain yang tidak muhkam ddan sekaligus tidak Mutasyabih.
Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dan dapat dipahami dengan mudah. dan yang Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki atau diteliti secara mendalam. atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
Jadi, dapat dipahami dari penjelasan ayat diatas bahwa, Semua isi ayat Al-Qur’an tidak dapat ditakwilkan secara sempurna, hanya Allahlah  yang dapat mengetahui makna asli yang dikandung oleh ayat-ayat tersebutkarena ialah sang pencipta segalanya sekaligus kalamnya sendiri. Ia juga berpendapat bahwa Nabi Muhammad memiliki Risalah kenabian dan kerasulan. Yakni, ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi (Nubuwwahnya) yang berupa al-‘ulum dan al-‘ulum itu sendiri bersifat mutasyabbihat. Sedangkan dari jalur Kerasulan (Risalah) memunculkan adanya Hukum-hukum yang kemudian menjadi Muhkamat.
Prinsip Nubuwwah menurut muhammad sahrur bersifat pengetahuan objektif, sedangkan prinsip Risalah bersifat hukum Subjektif. Kumpulan ayat-ayat Muhkamat adalah kumpulan-kumpulan hukum yang disampaikan Nabi Muhammad yang di dalamnya berisi prinsip-prinsip perilaku manusia, yang berupa berupa ibadah, muamalah, dan hal-hal yang berhubungan dengan risalahnya.
konsep mutasyabbihat jika dikaitkan dengan konsep Nubuwwah Nabi Muhammad, maka mengandung ilmu pengetahuan yang bersifat objektif. Mutasyabbihat mencakup tentang alam semesta dan hukum sejarah yang berfungsi sebagai pembeda antara yang haq dan yang bathil. Jika Muhkamat berfungsi sebagai  pembeda antara yang halal dan yang haram. Namun, Mutasyabbihat ini adalah kumpulan seluruh hakikat yang diberikan Allah kepada nabi Muhammad yang sebagian besar bersifat (ghaib) yakni hal-hal yang belum diketahui manusia dalam al-Qur’an.

Muhkam dan Mutasyabbih Perspektif  M. Abed Al-Jabiri dalam kitab Fahmul Qur’an
Seorang Nasrani dari Bani Najran Mendebat Baginda Nabi (konteks Mutasyabih dan Muhkam)
Seorang utusan dari Nasrani mendatangi Nabi lalu mendebat beliau mengenai kebenaran ketuhanan Isa sebagai putra Allah. Utusan itu berpendapat bahwa ketuhanan Isa, selain dibenarkan didalam kitab suci mereka sekarang dan dua kitab lain (Zabur dan Taurat), juga didukung oleh ayat Al-Qur’an. Banyak Al-Qur’an yang menerangkan dhamir yang disandarkan kepada Dzatullah tidak berbentuk dhamir tunggal, akan tetapi menggunakan dhamir Jama’; seperti lafad فعلنا,أمرنا,خلقنا. Menurut utusan tersebut, bahwa ayat yang menggunakan dhamir jama’ untuk disandarkan kepada Dzatullah menunjukkan bahwa tuhan benar-benar tidak hanya satu, tapi lebih dan Isa termasuk salah satu tuhan selain Allah di dalam dhamir jama’ itu.
Mereka juga mengatakan bahwa terdapat ayat yang mendukung trilogy ketuhanan mereka, yakni ayat-ayat Mutasyabih, yaitu pada surat Maryam ayat 17, At Tahrim ayat 12, dan Al Baqarah ayat 253. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa Isa ialah bagian daripada Allah yang direpresentasikan dalam bentuk manusia dengan perantara jibril yang meniupkan ruhullah itu ke dalam rahim Maryam.
            Nabi menolak pernyataan para utusan Nasrani itu. Beliau mengatakan “bagaimana mungkin tuhan memiliki anak?” Lalu utusan Nasrani itu bertanya kembali kepada beliau “lalu siapakah ayah ISA?”  Nabi terdiam dan tidak menjawab pertanyaan mereka hingga  sampai turunnya wahyu yang menerangkan tentang hal itu pada surat Ali Imran, lalu nabi mengundang mereka ke Mubahalah untuk menyampaikan wahyu Allah yang diturunkan untuk menjawab pertanyaan utusan Nasrani itu.
Abed Al JAbiri mengatakan, ini juga sebagaimana yang diungkapkan Nabi kepada para utusan Nasrani itu, bahwa untuk memberikan Analogi/qiyas atas ayat-ayat mutasyabih tersebut, juga kepada ayat mutasyabih lainnya secara umum, antara sesuatu dan sesuatu yang dianalogikan atasnya haruslah sama atau serupa (mutamatsilain); jika menganalogikan seseorang maka harus dengan orang, tidak mungkin benar jika Tuhan dianalogikan dengan manusia, posisi keduanya sangatlah berbeda; tuhan adalah Khaliq dan manusia adalah Makhluk.
Nabi menjelaskan dengan ayat yang telah Allah turunkan untuk menjawab pertanyaan utusan itu bahwa analogi yang benar tentang penciptaan Isa dianalogikan dengan penciptaan Adam; “sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah seperti halnya penciptaan Adam;  kami ciptakan dia dari tanah lalu kami katakana jadilah, maka jadilah (Adam) (Ali Imran 59).” Menganai peniupan ruhullah ke dalam rahim Maryam sehingga lahir-lah Isa dianalogikan dengan peniupan ruh atas tanah sehingga terciptalah Adam, ini dijelaskan pada surat Shad ayat 71-72. Segala hal yang Allah perbuat, entah penciptaan Adam dan Isa serta segala sesuatu yang tidak dapat dicerna oleh akal, ialah dengan sifat otoritas Allah sebagaimana dijelaskan pada banyak ayat di dalam Al-Qur’an.
Adapun ayat-ayat Muhakkamah, sesungguhnya untuk menjelaskan segala aspek ketuhanan, sehingga seluruh manusia dapat dengan jelas mengenal tuhannya. Sedangkan ayat Mutasyabih ialah ayat yang rumit untuk dicerna oleh akal fikiran manusia, yang tujuannya (dalam konteks kenabian) , ialah untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan eksistensi Allah dan untuk membenarkan kenabian seseorang   sehingga dengan adanya kejadian yang rumit (seperti halnya penciptaan Isa) maka ummatnya dapat mempercayai dan meyakini kenabiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar