Senin, 30 November 2015

cerpen keren cinta yang pupus



CINTA YANG PUPUS
Oleh:
EVA HANIFAH (13100064)*
*Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran Yogyakarta

 “Mama… aku lulus..!” teriakku pada mama tercinta, tak pernah kukira aku  benar-benar tak akan pernah kuinjakkan lagi kakiku lagi di sekolah ini.  Sejak kelulusan SMP aku mulai tertarik pada b.arab, disinilah aku mulai ingin menimba dan menggali segala kompetensi yang aku miliki di tempat suci ini.
Darul Lughah Islamic Center, yang terletak di sebuah desa. jauh dari tempat bersejarah ku bahkan, beda kabupaten. ia inilah tempat bersejarahku yang baru, yang akan kulalui hingga tiga tahun mendatang. Disini aku akan membuka bibirku dan menyuarakannya dengan bahasa arab. Aku tak mengerti, bisakah diriku melakukan hal ini?.
Dua tahun telah berlalu, masa kenak-kanakanku benar-benar ingin ku lemparkan ke laut biru sana, tapi aku tak kuasa melakukannya, hanya sedikit demi sedikit saja mungkin aku akan bisa, tuhan bantu aku. Namun, setahun yang kelam, aku di angkat untuk selalu memberi contoh yang baik kepada semua thalibat disekitarku. Aku pun, bingung dengan hal ini, karena aku sendiri tak bisa menjaga diriku dengan baik.
Ramai, kudengar suara-suara yang sedang bermuhadatsah[1] dengan bahasa arab, ia itulah tempat yang sangat menyenangkan, menyedihkan terkadang dan cukup membuat diriku bersemangat dalam mencari ilmu.
Semua thalibat yang telah lama kukenal sejak dua tahun yang lalu kini semakin bertambah dari hari kehari. Suasana ini membuatku senang. Begitupun sehabatku, muallimah juga uswatun. Sebut saja mereka lim dan uus. Aku sayang mereka sama halnya mereka menyayangi diriku. Akupun tak pernah lelah berteman bersama mereka meskipun, terkadang kita sering bertengkar. Yang aku lelahkan di ma’had ini saat peraturan yang dirubah setiap saat.
“Huft capek kalau cara kita seperti ini, mending kita ngelanggar aja dech, meskipun kita juga pengurus,!” keluhku, “tapi tak apalah vha, anggap aja ini adalah sebuah rintangan yang harus kita lalui” lim menyanggahku. Sedang uus hanya menggeleng-gelengkan kepalanya..
“Yaudah dech temen-temen kita tidur aja dech besok kan kita harus sekolah” uus membuka mulutnya, ” owh oke dech” serentak aku dan lim menjewabnya. Inilah percakapan kami sebelum kami memejamkan mata.
@         @         @
“Bangun-bangun”  uus bergegas untuk membangunkanku dan lim, “ya” jawabku. Lalu, kami bersama-sama pergi ke hammam[2] mengambil wudhu’, kemudian, kami berjama’ah bersama di mushalla, namun, ternyata kami telat. “yach… gara-gara kamu nich vha, kita kan jadi telat” keluh lim, “yach,,, di ta’dzir[3] dech” uus-pun mengeluhkannya, karena kami sama-sama tak ingin di ta’dzir. Huuu ya capeknya jika kami benar-benar dita’dzir karena ta’dzirannya bukan main, membaca surat At-taubah berdiri di siang hari, serta diumumkan oleh mudzir ma’had[4] didepan semua santri. Baik thullab maupun thalibat. Waduch, malu dech.! Kata hatiku saat itu.
“Ya udah maaf deh” sesalku. Mereka hanya mengangguk dan menerima semua yang akan terjadi. 04:45, tepat. Kami bersiap-siap untuk ta’lim[5].  Tet… Tet… bel berbunyi yang bertanda bahwa ta’lim akan benar-benar dimulai.
“Lari..” teriakku agar tak terlambat. “Hufh akhirnya kita gak terlambat juga” . bibirku berkata saat telah sampai di tempat dengan terengah engah. Untung ditahun ini kelas kita sama, andai saja kita tak bersama seperti dulu mungkin, aku tak bisa merasakan hal yang terindah dalam hidupku.
Akhirnya taklim selesai juga, kitapun bersiap-siap untuk berangkat sekolah, mandi bertiga, makan bertiga, berangkat bertiga, intinya kemana-manapun kita bertiga terus. Sampai semua teman-teman yang lain memanggil kita trio ‘wek-wek’ ih… jijik banget, aku malah paling gak suka di panggil itu.
06:35 kita pasti berangkat ke sekolah bersama-sama. Karena kita wajib sampai kesekolah tepat pada jam 06:50. Karena peraturan pada jam itu diwajibkan membaca al—qur’an bersama-sama dikelas. Inilah yang harus kulalui setiap hari. Lelah, jenuh dan membosankan namun, aku harus tetap bersemangat karena, memang inilah yang harus aku lalui.
Bahagia, sudah pasti. Ketertarikan akan selalu berada di penjara suci ini. Karena aku akan bertemu pujaan hatiku.  Inilah sisi kesenaganku saat beajar, akan bertemu dengannya. Ia tersimpan sudah lama dalam jiwaku, sejak aku mualai menimba ilmu di pesantren ini, aku tau dia sejak kelas satu aliyah, tapi, sebelumnya aku membecinya sangat membencinya. Mungkin karena semua teman-temanku selalu gojlokin aku dengannya, aku jadi tertarik juga. Malu dech.. gumamku.
 aku selalu senang didekatnya, meskipun aku tak pernah berbicara dengannya, aku malulah jika aku harus bercakap-cakap padanya, serasa ingin berada didekatnya dan selalu bersamanya. Namun, karena sekolah dibawah naungan pesantren. Jadi, kata trennya sih pacaran, itulah hal sangat dilarang. Jadi kita tak pernah bersama-sama. Ya… walau ada juga yang dekat dengannya.
Jarum jam pun berputar begitu cepat, sunyi, sepi, dan hening pun terasa dalam benakku. Dan tiba-tiba “Vha?” hah? Kaget, aku pun bertanya-tanya siapakah yang memanggilku? Sepertinya aku kenal siapa dia. Ternyata benar ia memanggilku, akupun menatap matanya begitu lama,  matanya yang indah serta menunjukkan kesungguhan cintanya padaku, mungkin, hehe..  hati kecilku, “ada apa” hampir aku lupa bahwa ia tadi memanggilku.
“Ia ivan, kau memanggilku kah?” jawabku dengan gugup. Aku pun penasaran apa yang ia ingin tanyakan.
“Oea kemaren pas mosba ngabisin berapa? Kira-kira masih ada sisa ngak?” tanyanya dengan agak malu, karena ia jarang berbincang denganku, ya kecuali mengenai hal penting saja. Oia aku baru ingat bahwa ia adalah atasanku, ia sekretaris dalam osis dan aku adalah seorang bendahara dalam organisasi ini, makanya aku tambah dekat dan kenal dia.
“Owh.. ya, tapi aku gak bawa bukunya, ntar aku hubungi lewat hp pondok ya, emang mau dibuat apa van?” Tanyaku dengan hati agak senang, sedikit.
“gak dibuat apa-apa kok aku Cuma pengen tau aja, soalnya pak jun tadi tanya”
“Ya, aku hubungi kamu aja ya,,, tunggu ja”
Panas akan terasa dingin, seluruh keringat yang berlumuran di sekujur tubuhku tiba-tiba menghilang begitu saja. Ivan, andai kau tau isi seluruh hatiku ini, mungkin kau tak akan berhenti mengusap pipimu, namun, entahlah! Biarlah ia tahu sendiri.
Lambat laun, suasana yang tak pernah ingin aku lalui, ternyata telah berlalu. Namun, akhirnya aku dan ivan akan melalui jalan satu arah. tuhan, apakah ini mimpi?.
“Shivha?” dengan nada kaku.
“Ia ivan ada apa?” sautku. Inikah malaikatku? Apakah tuhan mendengarkan doaku? Iyakah ini ? sungguh, di atas mimbarlah aku akan terasa gugup, diatas panggunglah aku akan tersipu malu, didepan kelaslah aku akan di serang kawan-kawan ku. Namun, impianku berbeda, hati kecilku berkata ‘tidak’. Akankah ivan ingin berkata lebih serius?. Tanyaku tanpa henti.
“lihat mataku”. Shet, serentak  kami berhenti. Memandang wajahya begitu cerah, indah, sulit ku alihkan pandangan ini darinya, bahkan, iapun menyamaiku.
“kamu tau hati ku? Kamu perasaanku? Taukah kesungguhanku padamu vha?, taukan, dari dulu sudah kukatakan padamu, aku sayang kamu, kau pun tak pernah lepas dari pikiranku!” bibir mungilnya pun, akhirnya melontarkan semua curahan hati kecinya.
Aku lumpuh, bibirku kaku, bingung, semuanya kini tiba didepan bola mata mungilku, dan hanya bisa “ia, aku tau, lantas apa yang kamu inginkan dari ku”
“bisakah kau simpan hatimu untukku kelak,?”
“apa yang akan kamu lakukan jika aku bisa?” Tanyaku serius.
“Jadilah teman hidupku vha!” ajaknya.
Detik ini, tak kuasa aku gambarkan suasana seperti apa? Dag-dig-dug, jantungku bedetak begitu kencang, “ia aku mau, asal kamu juga harus bisa menjaga perasaanku sebagai wanita”.
“oke aku janji vha”. Ikrarnya, “aku harap kau bisa mengerti” jawabku.
Kulangkahkan kakiku tanpa henti, ingin ku berlari dari pandangannya, namun, aku tak mampu.
Akhirnya aku tiba di penjara suci lagi, aktivitas kujalankan seperti biasa. Tak kuasa kutahan bendungan mutiara di mataku ini. Kuteteskan juga, bukan berarti aku marah, aku senang mengalami hal tadi dengannya.
“Vha,,,! Lima tabassamti miraran mundu anif..? ” tanya lim dari belakang. “Ekhem-ekhem,,, cie-cie.,,,” sambung uus.
“Udah udah mba’,  yuk kita taklim ajalah.. ntar telat lho…” ajakku juga mengalingkan pembicaraanku karena malu.
@         @         @
Detik demi detik telah kulalui, waktu berjalan begitu cepat, hari-hari kulalaui seperti biasanya, hingga tepat pada jam 23:30, pikiranku tak pernah lepas tentangnya, ternyata begitu indah akhirnya 2tahun lamanya pangeran yang telah lama aku nanti dan yang selalu hadir dalam lelapku kini, datang begitu saja. Membawa berjuta-juta pintu yang memanjakanku untuk merasa gembira setiap saat.
Haqqan, uhibbuka fillah ivan, insyaAllah!, tuturku dalam hati. Hm. Hingga kupejamkan mataku dengan penuh harapan tuk berjumpa dengannya. Nice dream.
@         @         @
“Istaiqhidna ukh,” ia suara itu tak asing lagi digendangku, oia aku baru ingat, itu suara para pengurus. Setiap ahdzan akan berkumandang, dengan pasti para pengurus ma’had ini saling membangunkan thalibat untuk sshalat berjama’ah. Terutama shalat subuh.
Taklim, telah berlalu di pagi yang cerah ini, tiba-tiba mudzirku memberitahukan bahwa, minggu depan kita semua akan pulangan. Yes ! teriakku dalam majlis. Upz.. aku hampir lupa. “Heh,!” uus menegurku dengan seram. “Ya, afwan,!” jawabku.
@         @         @
“Seanggun warna senja menyapa, bersambut musim yang dijalani semoga bintang penuh harapan, menggugah rasa rasa tuk ingin selalu bersamanya…! Oow,,,ow,,o,,” sengaja ku lantunkan suara lembutku dalam kesunyian ini. Hm,,, andai ivan di sampingku.
“Aku senang akan pulang, juga sedih mb us, kita kan akan pulang, dan yang pasti aku akan lama tak bertemu ivanku,,” keluhku pada uus, yang tiba-tiba muncul didepanku dengan senyuman manisnya.
“Ia dek, aku ngerti,,, udahlah sabar aja, ntar kan anti bisa hubungi dia,” mencoba menenagkan keresahanku. “oke dech”, senyumku.
@         @         @
            “Hore…! Mama,,, abah, aku datang,,!”. Ia, 15 januari 2013, aku benar-benar kembali ke tempat bersejarahku ini, menatap pintu rumah yang begitu indah pun, dihiasi dengan ukiran-ukiran yang begitu sulit kutebak, sempat hatiku menimbulkan pertanyaan. Apakah ukiran itu?.
            “Iya vha,!” ia, jawaban itu yang kunanti dari tadi. Mama, seorang bunda yang sangat kusayangi dari dulu dan ialah yang bisa buat aku tenang dalam menghadapi setiap masalahku. ‘Syukran mama’, gumamku dalam hati.
            “Kamu dah pulang nak?” mama membuka pembicaraan, serta mengajakku kedalam ruangan itu. Kamipun bercakap-cakap basa-basi.
            Aku senang bertemu mama dan aba, yang mungkin merekapun menanti kehadiranku, entah, karena rindu atau baggaimana aku bingung.
@         @         @
            Kutarik nafas sedalam mungkin, menghirup segarnya suasana akan terbitnya matahari, Kicauan burung pun seakan-akan menyapaku, yang telah lama kunanti selama aku bersama teman-teanku disana. Maha besar Tuhan telah menciptakan alam dan seisinya ini, tugas kita hanyalah bersyukur tiada henti.
            “Shivha, shivha,,,” teriak mama memanggilku, “ia ma”, akupun mendatanginya. Lalu mama melebarkan bibirnya dengan manis. Sungguh indahnya.
            “Shivha”, mama mengawali pembicaraan ini, tegang rasanya. Melihat mama yang begitu serius.
            “Ia ma, ada apa e?”,
“vha, dengarkan mama berbicara, diam nak, dan jangan membantah ya.”, pintanya. Aku mengangguk.
“Ridahallahu fie ridhal walidaien, washuhtullah fie shuhtil walidaien, kamu tau tentang ini kan vha, kamu ikut ya nak apa yang abamu katakan nanti. Sana nak, pergi ke abah. Ia memanggilmu dan ingin berbicara sebentar pada padamu.”
Apasih maksudnya semua ini? Sungguh aku bertanya-tanya, namun, akau hanya bisa terdiam.
“Vha, kemarin ada seseorang yang datang untuk meminagmu, sungguh aku pikir kau telah pantas  untuk mendapatkan hal ini. Lagi pula dirimu sudah dewasa. Besok acaranya ya, kamu persiapkan dirimu nak, maafkan aba. Aba gak bisa menolak”. Tuturnya dengan mubasyarah tanpa ada basa-basi.
 Ivan, ia ivan. Bagaimana dengan dirinya  tuhan? Ingatanku pada ivan begitu kuat. akhirnya kuteteskan jua bendungan air mataku yang tak kuasa tuk kutahan. kakiku kaku, aku ingin merangkul ivan dan mengeluarkan seluruh amarahku ini. Namun, aku tak bisa.
Tiba-tiba mama mengahampiri dan memelukku dan mencoba tuk menenagkanku. “Sabar nak, jangan bantah peraturan. Yang namanya perajurit harus patuh pada atasan, meskipun itu salah menurutmu”.
“Aba jahat ma, apa salah shivha? Shivha benci aba ma, shivha masih ingin seneng-seneng ma, bukan sengsara kaya ini. Ini akan menyiksa batinku. Mama.. aku harus gimana?” tangisku dengan nada yang tinggi.
Gila, aku benar-benar gila. Mengapa hal ini harus terjadi padaku. Apa salahku tuhan..?  please help me. Apa yang harus aku katakan padanya tuhan?. Aku tak suka semua rencana ini. Dert,, dert.. nada handphoneku berdering, ku angkat. Dan ternyata ia pujaanku. Ivan, aduch.. aku bingung apa yang harus kukatakan. Mencoba tenang dan “assalamualaikum.” Ia mulai.
“Waalaikasslam, ivan”
“Kaifa hauk ukhti?”
“Alhamdulillah bikhoir, yumkin bibarokati dua’ik”
“Subhanallah Alhamdulillah, shivha aku ingin ngomong sesuatu, boleh?”
“Ada apa ivan”, dengan agak ragu. “Ia boleh tafadhol”
“Begini vha, aku telah berbicara panjang dengan orangtuaku tentang perasaanku padamu”. Ya ampun tubuhku bergemetar dengan tiba-tiba.
“Terus vha, seluruh keluargaku sudah setuju akan pertungan kita nanti, bagaimana vha? Kamu siapkan? besok aku kerumahmu tepat jam 8:00pagi”.
Aku pencet tombol merah itu, bukan karna aku telah muak mendengarkan suara ivan, namun, aku tak kuasa menahan semuanya. Maafkan aku ivan, gumamku. Tiap detik  dengan tanpa henti, kuteteskan air mataku, bibirku selalu bergerak tanpa henti, dengan rasa kebingungan. Seakan-akan aku berada di gelapnya dunia.
Pagipun tiba, detik mulai berjalan dengan cepat, jarum jampun mengahntuiku, teng.! Tepat jam 8:00. Tok tok tok, ya tuhan ia diakah ?
Tiba-tiba, mama membukakan pintu itu, sengaja ia lebarkan bibirnya untuk mama, dan melangkah secara perlahan. “Silahkan duduk” mama mengawali pembicaraan itu. “ibu, saya ivan teman shivha, bisakah saya bertemu ayah shivha?”
“ia nak, bisa tunggu ibu panggilkan dulu ya..!
Ayahpun datang menghampiri tamu-tamunya itu, tanpa basa-basi  ayah ivan langsung berbicara secara inti. “maaf pak sebelumnya, ini ivan temennya shivha, ia telah lama menyukai shivha. Kedatangan kami kesini hanya satu, yaitu melamar shivha anak bapak!” dengan percaya diri ia menyampaikannya.
Tiba-tiba ekspresi ayah sangat tidak nyaman diihat, ia bingung harus bagaimana, “maaf pak, dengan sangat hormat saya memohon maaf pada anda bahwa anak saya kemaren sudah dilamar orang, maafkan kami pak”...!
“Ia pak, santai aja, ivan juga sudah punya cadangan lain....”
“Oh,, begitukah?”
“Iya pak, ya sudahlah kami pulang ya, kami ada acara jam 10:00.”
“Ya monggo... “
Dengan sedih hati mereka pulang, bapak ivan serta ivan mungkin sangat malu dan kecewa, tapi bagaimana lagi? Entahlah,,, mungkin keadaannya memang harus sepert ini.
            Tak lama kemudian, sebuah ponsel dengan layar lebarnya berdering sangat kencang, saat kulihat ternyata ia Ivan.  


[1] Bebcakap-cakap, menurut bahasa arab.
[2] Kamar mandi.
[3] Sanksi dalam bahasa arab.
[4] Pemimpin pondok.
[5]  Istilah disana ketika hendak ngaji kitab.

Minggu, 11 Oktober 2015

muhkam mutasyabih



AL-MUKHKAM dan AL-MUTASYABIH
Perspektif Ulama’ Konvensional, Imam Jalaluddin As-Suyuti,
Muhammad Syahrur dan Abed Al-Jabiri
Oleh: Eva Hanifah
Program Studi Al-Qur’an dan Tafsir
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran

Pandangan Imam Jalaluddin As-Suyuti dalam Kitab Al-Itqan
            Imam Ibnu an Naisaburi dalam kitab al-itqan tentang Mukhkam Mutasyabih dalam Al-Quran terdapat dua permasalahan:
Pertama, semua ayat dalam Al-Qur’an adalah mukhkam. Seperti yang terdapat pada (Q.S Hud: 1).
الَر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ {1}

Alif Laam Raa',(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci , yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,(QS.11:1)

ð  Penjelasan dalam ayat diatas أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ merupakan konsep dasar yang dijelaskan secara rinci, jelas dan detail. Agar dapat memahami isi kandungan ayat Muhkam, dan tidak lagi membutuhkan pengulangan dan pemahaman yang mendetail.
ð  Allah juga tidak bermaksud menyatakan tentang sebuah kitab yang mencakup seluruh ayat-ayat dalam al-qur’an, namun yang dimaksud allah adalah kumpulan dari ayat-ayat mukhkamat saja.

Kedua, semua ayat di al-qur’an adalah mutasyabihat, seperti yang terdapat dalam  (Q.S Az-Zumar: 23).

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ {23}

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.(QS.39:23)

ð  Maksud dari ayat diatas pada lafadz كتابا متشابها  bahwasanya ayat Mutasyabbih adalah ayat yang bersifat umum. Mutasyabbih bisa juga diartikan sebagai ayat yang bersifat ambigu atau “mutaradif”. Dimana dalam hal ini dibutuhkan berbagai kajian ilmu lain untuk dapat memahaminya secara jelas dan tidak mudah untuk memahami jika hanya dipelajari sekali saja. Namun, harus berulang-ulang karena untuk pemahaman ini rumit dan sulit karena butuh pen-ta’wilan dari ayat lain.
ð  Allah juga tidak bermaksud menyebut kandungan al-qur’an secara keseluruhan, tetapi hanyalah kandungan dalam ayat-ayat mutasyabihat.
Al-Mawardi, muhkam adalah sebuah makna yang logis atau dapat diterima oleh akal, sedangkan mutasyabih lawan dari muhkam yang mana dapat diartikan dengan sebuah makna yang tidak logis. Misalnya, jumlah bilangan shalat, pengkhususan bulan ramadhan sebagai bulan yang diwajibkan untuk berpuasa bukan bulan sya’ban.
Imam Malik, Ia sedikit dan keras dalam menghadapi pemikiran-pemikiran yang tumbuh berkenaan dengan adanya ayat Mutasyabbih. Zaman Imam Malik lebih banyak yang  mengikuti pemahaman pada masa Sahabat dan tabi’in, yang mana hal itu cukup mengimani dan mempercayainya tanpa mempersoalkannya.

Pandangan Muhammad Shahrur
هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ {7}
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat . Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya).
Ayat diatas terdapat beberapa penjelasan, diantaranya: pertama, Al-Kitab Al-Muhkam, yaitu adalah sebuah kitab yang berisi kumpulan-kumpulan dari seluruh ayat-ayat yang Muhkamat, secara khusus didefinisikan sebgai umm al kitab (kitab induk) sebgaimana yang terdapat dalam redaksi مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ  karena umm al-kitab hanyalah sebuah istilah , maka ia dapat didefinisikan sebagai kumpulan-kumpulan ayat Muhkamat. Dan istilah tersebut perlu dijelaskan oleh definisi-definisi tertentu.
Kedua, setelah kita teliti dengan detail ayat-ayat Muhkamat, ternyata masih menyisakan sebuah al-kitab yang terdiri dari dua buah kitab yaitu, kitab al-Mutasyabih dan yang kedua adalah kitab yang bisa kita katakan aneh, karena ia adalah sebuah kitab yang jenisnya bukan Muhkam dan bukan pula Mutasyabih. Keberadaan dari jenis kitab tersebut dapat dilihat pula dalam ayat diatas yang berbunyi وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ dan ia tidak berbunyi والخر متشابهات hal ini mengandung pengertian bahwa ayat-ayat yang tidak Mukhkam itu terdiri dari ayat-ayat yang mutasyabihat dan bagian lain yang tidak muhkam ddan sekaligus tidak Mutasyabih.
Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dan dapat dipahami dengan mudah. dan yang Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki atau diteliti secara mendalam. atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
Jadi, dapat dipahami dari penjelasan ayat diatas bahwa, Semua isi ayat Al-Qur’an tidak dapat ditakwilkan secara sempurna, hanya Allahlah  yang dapat mengetahui makna asli yang dikandung oleh ayat-ayat tersebutkarena ialah sang pencipta segalanya sekaligus kalamnya sendiri. Ia juga berpendapat bahwa Nabi Muhammad memiliki Risalah kenabian dan kerasulan. Yakni, ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi (Nubuwwahnya) yang berupa al-‘ulum dan al-‘ulum itu sendiri bersifat mutasyabbihat. Sedangkan dari jalur Kerasulan (Risalah) memunculkan adanya Hukum-hukum yang kemudian menjadi Muhkamat.
Prinsip Nubuwwah menurut muhammad sahrur bersifat pengetahuan objektif, sedangkan prinsip Risalah bersifat hukum Subjektif. Kumpulan ayat-ayat Muhkamat adalah kumpulan-kumpulan hukum yang disampaikan Nabi Muhammad yang di dalamnya berisi prinsip-prinsip perilaku manusia, yang berupa berupa ibadah, muamalah, dan hal-hal yang berhubungan dengan risalahnya.
konsep mutasyabbihat jika dikaitkan dengan konsep Nubuwwah Nabi Muhammad, maka mengandung ilmu pengetahuan yang bersifat objektif. Mutasyabbihat mencakup tentang alam semesta dan hukum sejarah yang berfungsi sebagai pembeda antara yang haq dan yang bathil. Jika Muhkamat berfungsi sebagai  pembeda antara yang halal dan yang haram. Namun, Mutasyabbihat ini adalah kumpulan seluruh hakikat yang diberikan Allah kepada nabi Muhammad yang sebagian besar bersifat (ghaib) yakni hal-hal yang belum diketahui manusia dalam al-Qur’an.

Muhkam dan Mutasyabbih Perspektif  M. Abed Al-Jabiri dalam kitab Fahmul Qur’an
Seorang Nasrani dari Bani Najran Mendebat Baginda Nabi (konteks Mutasyabih dan Muhkam)
Seorang utusan dari Nasrani mendatangi Nabi lalu mendebat beliau mengenai kebenaran ketuhanan Isa sebagai putra Allah. Utusan itu berpendapat bahwa ketuhanan Isa, selain dibenarkan didalam kitab suci mereka sekarang dan dua kitab lain (Zabur dan Taurat), juga didukung oleh ayat Al-Qur’an. Banyak Al-Qur’an yang menerangkan dhamir yang disandarkan kepada Dzatullah tidak berbentuk dhamir tunggal, akan tetapi menggunakan dhamir Jama’; seperti lafad فعلنا,أمرنا,خلقنا. Menurut utusan tersebut, bahwa ayat yang menggunakan dhamir jama’ untuk disandarkan kepada Dzatullah menunjukkan bahwa tuhan benar-benar tidak hanya satu, tapi lebih dan Isa termasuk salah satu tuhan selain Allah di dalam dhamir jama’ itu.
Mereka juga mengatakan bahwa terdapat ayat yang mendukung trilogy ketuhanan mereka, yakni ayat-ayat Mutasyabih, yaitu pada surat Maryam ayat 17, At Tahrim ayat 12, dan Al Baqarah ayat 253. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa Isa ialah bagian daripada Allah yang direpresentasikan dalam bentuk manusia dengan perantara jibril yang meniupkan ruhullah itu ke dalam rahim Maryam.
            Nabi menolak pernyataan para utusan Nasrani itu. Beliau mengatakan “bagaimana mungkin tuhan memiliki anak?” Lalu utusan Nasrani itu bertanya kembali kepada beliau “lalu siapakah ayah ISA?”  Nabi terdiam dan tidak menjawab pertanyaan mereka hingga  sampai turunnya wahyu yang menerangkan tentang hal itu pada surat Ali Imran, lalu nabi mengundang mereka ke Mubahalah untuk menyampaikan wahyu Allah yang diturunkan untuk menjawab pertanyaan utusan Nasrani itu.
Abed Al JAbiri mengatakan, ini juga sebagaimana yang diungkapkan Nabi kepada para utusan Nasrani itu, bahwa untuk memberikan Analogi/qiyas atas ayat-ayat mutasyabih tersebut, juga kepada ayat mutasyabih lainnya secara umum, antara sesuatu dan sesuatu yang dianalogikan atasnya haruslah sama atau serupa (mutamatsilain); jika menganalogikan seseorang maka harus dengan orang, tidak mungkin benar jika Tuhan dianalogikan dengan manusia, posisi keduanya sangatlah berbeda; tuhan adalah Khaliq dan manusia adalah Makhluk.
Nabi menjelaskan dengan ayat yang telah Allah turunkan untuk menjawab pertanyaan utusan itu bahwa analogi yang benar tentang penciptaan Isa dianalogikan dengan penciptaan Adam; “sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah seperti halnya penciptaan Adam;  kami ciptakan dia dari tanah lalu kami katakana jadilah, maka jadilah (Adam) (Ali Imran 59).” Menganai peniupan ruhullah ke dalam rahim Maryam sehingga lahir-lah Isa dianalogikan dengan peniupan ruh atas tanah sehingga terciptalah Adam, ini dijelaskan pada surat Shad ayat 71-72. Segala hal yang Allah perbuat, entah penciptaan Adam dan Isa serta segala sesuatu yang tidak dapat dicerna oleh akal, ialah dengan sifat otoritas Allah sebagaimana dijelaskan pada banyak ayat di dalam Al-Qur’an.
Adapun ayat-ayat Muhakkamah, sesungguhnya untuk menjelaskan segala aspek ketuhanan, sehingga seluruh manusia dapat dengan jelas mengenal tuhannya. Sedangkan ayat Mutasyabih ialah ayat yang rumit untuk dicerna oleh akal fikiran manusia, yang tujuannya (dalam konteks kenabian) , ialah untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan eksistensi Allah dan untuk membenarkan kenabian seseorang   sehingga dengan adanya kejadian yang rumit (seperti halnya penciptaan Isa) maka ummatnya dapat mempercayai dan meyakini kenabiannya.