Senin, 30 November 2015

cerpen keren cinta yang pupus



CINTA YANG PUPUS
Oleh:
EVA HANIFAH (13100064)*
*Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran Yogyakarta

 “Mama… aku lulus..!” teriakku pada mama tercinta, tak pernah kukira aku  benar-benar tak akan pernah kuinjakkan lagi kakiku lagi di sekolah ini.  Sejak kelulusan SMP aku mulai tertarik pada b.arab, disinilah aku mulai ingin menimba dan menggali segala kompetensi yang aku miliki di tempat suci ini.
Darul Lughah Islamic Center, yang terletak di sebuah desa. jauh dari tempat bersejarah ku bahkan, beda kabupaten. ia inilah tempat bersejarahku yang baru, yang akan kulalui hingga tiga tahun mendatang. Disini aku akan membuka bibirku dan menyuarakannya dengan bahasa arab. Aku tak mengerti, bisakah diriku melakukan hal ini?.
Dua tahun telah berlalu, masa kenak-kanakanku benar-benar ingin ku lemparkan ke laut biru sana, tapi aku tak kuasa melakukannya, hanya sedikit demi sedikit saja mungkin aku akan bisa, tuhan bantu aku. Namun, setahun yang kelam, aku di angkat untuk selalu memberi contoh yang baik kepada semua thalibat disekitarku. Aku pun, bingung dengan hal ini, karena aku sendiri tak bisa menjaga diriku dengan baik.
Ramai, kudengar suara-suara yang sedang bermuhadatsah[1] dengan bahasa arab, ia itulah tempat yang sangat menyenangkan, menyedihkan terkadang dan cukup membuat diriku bersemangat dalam mencari ilmu.
Semua thalibat yang telah lama kukenal sejak dua tahun yang lalu kini semakin bertambah dari hari kehari. Suasana ini membuatku senang. Begitupun sehabatku, muallimah juga uswatun. Sebut saja mereka lim dan uus. Aku sayang mereka sama halnya mereka menyayangi diriku. Akupun tak pernah lelah berteman bersama mereka meskipun, terkadang kita sering bertengkar. Yang aku lelahkan di ma’had ini saat peraturan yang dirubah setiap saat.
“Huft capek kalau cara kita seperti ini, mending kita ngelanggar aja dech, meskipun kita juga pengurus,!” keluhku, “tapi tak apalah vha, anggap aja ini adalah sebuah rintangan yang harus kita lalui” lim menyanggahku. Sedang uus hanya menggeleng-gelengkan kepalanya..
“Yaudah dech temen-temen kita tidur aja dech besok kan kita harus sekolah” uus membuka mulutnya, ” owh oke dech” serentak aku dan lim menjewabnya. Inilah percakapan kami sebelum kami memejamkan mata.
@         @         @
“Bangun-bangun”  uus bergegas untuk membangunkanku dan lim, “ya” jawabku. Lalu, kami bersama-sama pergi ke hammam[2] mengambil wudhu’, kemudian, kami berjama’ah bersama di mushalla, namun, ternyata kami telat. “yach… gara-gara kamu nich vha, kita kan jadi telat” keluh lim, “yach,,, di ta’dzir[3] dech” uus-pun mengeluhkannya, karena kami sama-sama tak ingin di ta’dzir. Huuu ya capeknya jika kami benar-benar dita’dzir karena ta’dzirannya bukan main, membaca surat At-taubah berdiri di siang hari, serta diumumkan oleh mudzir ma’had[4] didepan semua santri. Baik thullab maupun thalibat. Waduch, malu dech.! Kata hatiku saat itu.
“Ya udah maaf deh” sesalku. Mereka hanya mengangguk dan menerima semua yang akan terjadi. 04:45, tepat. Kami bersiap-siap untuk ta’lim[5].  Tet… Tet… bel berbunyi yang bertanda bahwa ta’lim akan benar-benar dimulai.
“Lari..” teriakku agar tak terlambat. “Hufh akhirnya kita gak terlambat juga” . bibirku berkata saat telah sampai di tempat dengan terengah engah. Untung ditahun ini kelas kita sama, andai saja kita tak bersama seperti dulu mungkin, aku tak bisa merasakan hal yang terindah dalam hidupku.
Akhirnya taklim selesai juga, kitapun bersiap-siap untuk berangkat sekolah, mandi bertiga, makan bertiga, berangkat bertiga, intinya kemana-manapun kita bertiga terus. Sampai semua teman-teman yang lain memanggil kita trio ‘wek-wek’ ih… jijik banget, aku malah paling gak suka di panggil itu.
06:35 kita pasti berangkat ke sekolah bersama-sama. Karena kita wajib sampai kesekolah tepat pada jam 06:50. Karena peraturan pada jam itu diwajibkan membaca al—qur’an bersama-sama dikelas. Inilah yang harus kulalui setiap hari. Lelah, jenuh dan membosankan namun, aku harus tetap bersemangat karena, memang inilah yang harus aku lalui.
Bahagia, sudah pasti. Ketertarikan akan selalu berada di penjara suci ini. Karena aku akan bertemu pujaan hatiku.  Inilah sisi kesenaganku saat beajar, akan bertemu dengannya. Ia tersimpan sudah lama dalam jiwaku, sejak aku mualai menimba ilmu di pesantren ini, aku tau dia sejak kelas satu aliyah, tapi, sebelumnya aku membecinya sangat membencinya. Mungkin karena semua teman-temanku selalu gojlokin aku dengannya, aku jadi tertarik juga. Malu dech.. gumamku.
 aku selalu senang didekatnya, meskipun aku tak pernah berbicara dengannya, aku malulah jika aku harus bercakap-cakap padanya, serasa ingin berada didekatnya dan selalu bersamanya. Namun, karena sekolah dibawah naungan pesantren. Jadi, kata trennya sih pacaran, itulah hal sangat dilarang. Jadi kita tak pernah bersama-sama. Ya… walau ada juga yang dekat dengannya.
Jarum jam pun berputar begitu cepat, sunyi, sepi, dan hening pun terasa dalam benakku. Dan tiba-tiba “Vha?” hah? Kaget, aku pun bertanya-tanya siapakah yang memanggilku? Sepertinya aku kenal siapa dia. Ternyata benar ia memanggilku, akupun menatap matanya begitu lama,  matanya yang indah serta menunjukkan kesungguhan cintanya padaku, mungkin, hehe..  hati kecilku, “ada apa” hampir aku lupa bahwa ia tadi memanggilku.
“Ia ivan, kau memanggilku kah?” jawabku dengan gugup. Aku pun penasaran apa yang ia ingin tanyakan.
“Oea kemaren pas mosba ngabisin berapa? Kira-kira masih ada sisa ngak?” tanyanya dengan agak malu, karena ia jarang berbincang denganku, ya kecuali mengenai hal penting saja. Oia aku baru ingat bahwa ia adalah atasanku, ia sekretaris dalam osis dan aku adalah seorang bendahara dalam organisasi ini, makanya aku tambah dekat dan kenal dia.
“Owh.. ya, tapi aku gak bawa bukunya, ntar aku hubungi lewat hp pondok ya, emang mau dibuat apa van?” Tanyaku dengan hati agak senang, sedikit.
“gak dibuat apa-apa kok aku Cuma pengen tau aja, soalnya pak jun tadi tanya”
“Ya, aku hubungi kamu aja ya,,, tunggu ja”
Panas akan terasa dingin, seluruh keringat yang berlumuran di sekujur tubuhku tiba-tiba menghilang begitu saja. Ivan, andai kau tau isi seluruh hatiku ini, mungkin kau tak akan berhenti mengusap pipimu, namun, entahlah! Biarlah ia tahu sendiri.
Lambat laun, suasana yang tak pernah ingin aku lalui, ternyata telah berlalu. Namun, akhirnya aku dan ivan akan melalui jalan satu arah. tuhan, apakah ini mimpi?.
“Shivha?” dengan nada kaku.
“Ia ivan ada apa?” sautku. Inikah malaikatku? Apakah tuhan mendengarkan doaku? Iyakah ini ? sungguh, di atas mimbarlah aku akan terasa gugup, diatas panggunglah aku akan tersipu malu, didepan kelaslah aku akan di serang kawan-kawan ku. Namun, impianku berbeda, hati kecilku berkata ‘tidak’. Akankah ivan ingin berkata lebih serius?. Tanyaku tanpa henti.
“lihat mataku”. Shet, serentak  kami berhenti. Memandang wajahya begitu cerah, indah, sulit ku alihkan pandangan ini darinya, bahkan, iapun menyamaiku.
“kamu tau hati ku? Kamu perasaanku? Taukah kesungguhanku padamu vha?, taukan, dari dulu sudah kukatakan padamu, aku sayang kamu, kau pun tak pernah lepas dari pikiranku!” bibir mungilnya pun, akhirnya melontarkan semua curahan hati kecinya.
Aku lumpuh, bibirku kaku, bingung, semuanya kini tiba didepan bola mata mungilku, dan hanya bisa “ia, aku tau, lantas apa yang kamu inginkan dari ku”
“bisakah kau simpan hatimu untukku kelak,?”
“apa yang akan kamu lakukan jika aku bisa?” Tanyaku serius.
“Jadilah teman hidupku vha!” ajaknya.
Detik ini, tak kuasa aku gambarkan suasana seperti apa? Dag-dig-dug, jantungku bedetak begitu kencang, “ia aku mau, asal kamu juga harus bisa menjaga perasaanku sebagai wanita”.
“oke aku janji vha”. Ikrarnya, “aku harap kau bisa mengerti” jawabku.
Kulangkahkan kakiku tanpa henti, ingin ku berlari dari pandangannya, namun, aku tak mampu.
Akhirnya aku tiba di penjara suci lagi, aktivitas kujalankan seperti biasa. Tak kuasa kutahan bendungan mutiara di mataku ini. Kuteteskan juga, bukan berarti aku marah, aku senang mengalami hal tadi dengannya.
“Vha,,,! Lima tabassamti miraran mundu anif..? ” tanya lim dari belakang. “Ekhem-ekhem,,, cie-cie.,,,” sambung uus.
“Udah udah mba’,  yuk kita taklim ajalah.. ntar telat lho…” ajakku juga mengalingkan pembicaraanku karena malu.
@         @         @
Detik demi detik telah kulalui, waktu berjalan begitu cepat, hari-hari kulalaui seperti biasanya, hingga tepat pada jam 23:30, pikiranku tak pernah lepas tentangnya, ternyata begitu indah akhirnya 2tahun lamanya pangeran yang telah lama aku nanti dan yang selalu hadir dalam lelapku kini, datang begitu saja. Membawa berjuta-juta pintu yang memanjakanku untuk merasa gembira setiap saat.
Haqqan, uhibbuka fillah ivan, insyaAllah!, tuturku dalam hati. Hm. Hingga kupejamkan mataku dengan penuh harapan tuk berjumpa dengannya. Nice dream.
@         @         @
“Istaiqhidna ukh,” ia suara itu tak asing lagi digendangku, oia aku baru ingat, itu suara para pengurus. Setiap ahdzan akan berkumandang, dengan pasti para pengurus ma’had ini saling membangunkan thalibat untuk sshalat berjama’ah. Terutama shalat subuh.
Taklim, telah berlalu di pagi yang cerah ini, tiba-tiba mudzirku memberitahukan bahwa, minggu depan kita semua akan pulangan. Yes ! teriakku dalam majlis. Upz.. aku hampir lupa. “Heh,!” uus menegurku dengan seram. “Ya, afwan,!” jawabku.
@         @         @
“Seanggun warna senja menyapa, bersambut musim yang dijalani semoga bintang penuh harapan, menggugah rasa rasa tuk ingin selalu bersamanya…! Oow,,,ow,,o,,” sengaja ku lantunkan suara lembutku dalam kesunyian ini. Hm,,, andai ivan di sampingku.
“Aku senang akan pulang, juga sedih mb us, kita kan akan pulang, dan yang pasti aku akan lama tak bertemu ivanku,,” keluhku pada uus, yang tiba-tiba muncul didepanku dengan senyuman manisnya.
“Ia dek, aku ngerti,,, udahlah sabar aja, ntar kan anti bisa hubungi dia,” mencoba menenagkan keresahanku. “oke dech”, senyumku.
@         @         @
            “Hore…! Mama,,, abah, aku datang,,!”. Ia, 15 januari 2013, aku benar-benar kembali ke tempat bersejarahku ini, menatap pintu rumah yang begitu indah pun, dihiasi dengan ukiran-ukiran yang begitu sulit kutebak, sempat hatiku menimbulkan pertanyaan. Apakah ukiran itu?.
            “Iya vha,!” ia, jawaban itu yang kunanti dari tadi. Mama, seorang bunda yang sangat kusayangi dari dulu dan ialah yang bisa buat aku tenang dalam menghadapi setiap masalahku. ‘Syukran mama’, gumamku dalam hati.
            “Kamu dah pulang nak?” mama membuka pembicaraan, serta mengajakku kedalam ruangan itu. Kamipun bercakap-cakap basa-basi.
            Aku senang bertemu mama dan aba, yang mungkin merekapun menanti kehadiranku, entah, karena rindu atau baggaimana aku bingung.
@         @         @
            Kutarik nafas sedalam mungkin, menghirup segarnya suasana akan terbitnya matahari, Kicauan burung pun seakan-akan menyapaku, yang telah lama kunanti selama aku bersama teman-teanku disana. Maha besar Tuhan telah menciptakan alam dan seisinya ini, tugas kita hanyalah bersyukur tiada henti.
            “Shivha, shivha,,,” teriak mama memanggilku, “ia ma”, akupun mendatanginya. Lalu mama melebarkan bibirnya dengan manis. Sungguh indahnya.
            “Shivha”, mama mengawali pembicaraan ini, tegang rasanya. Melihat mama yang begitu serius.
            “Ia ma, ada apa e?”,
“vha, dengarkan mama berbicara, diam nak, dan jangan membantah ya.”, pintanya. Aku mengangguk.
“Ridahallahu fie ridhal walidaien, washuhtullah fie shuhtil walidaien, kamu tau tentang ini kan vha, kamu ikut ya nak apa yang abamu katakan nanti. Sana nak, pergi ke abah. Ia memanggilmu dan ingin berbicara sebentar pada padamu.”
Apasih maksudnya semua ini? Sungguh aku bertanya-tanya, namun, akau hanya bisa terdiam.
“Vha, kemarin ada seseorang yang datang untuk meminagmu, sungguh aku pikir kau telah pantas  untuk mendapatkan hal ini. Lagi pula dirimu sudah dewasa. Besok acaranya ya, kamu persiapkan dirimu nak, maafkan aba. Aba gak bisa menolak”. Tuturnya dengan mubasyarah tanpa ada basa-basi.
 Ivan, ia ivan. Bagaimana dengan dirinya  tuhan? Ingatanku pada ivan begitu kuat. akhirnya kuteteskan jua bendungan air mataku yang tak kuasa tuk kutahan. kakiku kaku, aku ingin merangkul ivan dan mengeluarkan seluruh amarahku ini. Namun, aku tak bisa.
Tiba-tiba mama mengahampiri dan memelukku dan mencoba tuk menenagkanku. “Sabar nak, jangan bantah peraturan. Yang namanya perajurit harus patuh pada atasan, meskipun itu salah menurutmu”.
“Aba jahat ma, apa salah shivha? Shivha benci aba ma, shivha masih ingin seneng-seneng ma, bukan sengsara kaya ini. Ini akan menyiksa batinku. Mama.. aku harus gimana?” tangisku dengan nada yang tinggi.
Gila, aku benar-benar gila. Mengapa hal ini harus terjadi padaku. Apa salahku tuhan..?  please help me. Apa yang harus aku katakan padanya tuhan?. Aku tak suka semua rencana ini. Dert,, dert.. nada handphoneku berdering, ku angkat. Dan ternyata ia pujaanku. Ivan, aduch.. aku bingung apa yang harus kukatakan. Mencoba tenang dan “assalamualaikum.” Ia mulai.
“Waalaikasslam, ivan”
“Kaifa hauk ukhti?”
“Alhamdulillah bikhoir, yumkin bibarokati dua’ik”
“Subhanallah Alhamdulillah, shivha aku ingin ngomong sesuatu, boleh?”
“Ada apa ivan”, dengan agak ragu. “Ia boleh tafadhol”
“Begini vha, aku telah berbicara panjang dengan orangtuaku tentang perasaanku padamu”. Ya ampun tubuhku bergemetar dengan tiba-tiba.
“Terus vha, seluruh keluargaku sudah setuju akan pertungan kita nanti, bagaimana vha? Kamu siapkan? besok aku kerumahmu tepat jam 8:00pagi”.
Aku pencet tombol merah itu, bukan karna aku telah muak mendengarkan suara ivan, namun, aku tak kuasa menahan semuanya. Maafkan aku ivan, gumamku. Tiap detik  dengan tanpa henti, kuteteskan air mataku, bibirku selalu bergerak tanpa henti, dengan rasa kebingungan. Seakan-akan aku berada di gelapnya dunia.
Pagipun tiba, detik mulai berjalan dengan cepat, jarum jampun mengahntuiku, teng.! Tepat jam 8:00. Tok tok tok, ya tuhan ia diakah ?
Tiba-tiba, mama membukakan pintu itu, sengaja ia lebarkan bibirnya untuk mama, dan melangkah secara perlahan. “Silahkan duduk” mama mengawali pembicaraan itu. “ibu, saya ivan teman shivha, bisakah saya bertemu ayah shivha?”
“ia nak, bisa tunggu ibu panggilkan dulu ya..!
Ayahpun datang menghampiri tamu-tamunya itu, tanpa basa-basi  ayah ivan langsung berbicara secara inti. “maaf pak sebelumnya, ini ivan temennya shivha, ia telah lama menyukai shivha. Kedatangan kami kesini hanya satu, yaitu melamar shivha anak bapak!” dengan percaya diri ia menyampaikannya.
Tiba-tiba ekspresi ayah sangat tidak nyaman diihat, ia bingung harus bagaimana, “maaf pak, dengan sangat hormat saya memohon maaf pada anda bahwa anak saya kemaren sudah dilamar orang, maafkan kami pak”...!
“Ia pak, santai aja, ivan juga sudah punya cadangan lain....”
“Oh,, begitukah?”
“Iya pak, ya sudahlah kami pulang ya, kami ada acara jam 10:00.”
“Ya monggo... “
Dengan sedih hati mereka pulang, bapak ivan serta ivan mungkin sangat malu dan kecewa, tapi bagaimana lagi? Entahlah,,, mungkin keadaannya memang harus sepert ini.
            Tak lama kemudian, sebuah ponsel dengan layar lebarnya berdering sangat kencang, saat kulihat ternyata ia Ivan.  


[1] Bebcakap-cakap, menurut bahasa arab.
[2] Kamar mandi.
[3] Sanksi dalam bahasa arab.
[4] Pemimpin pondok.
[5]  Istilah disana ketika hendak ngaji kitab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar