CINTA YANG PUPUS
Oleh:
EVA HANIFAH (13100064)*
*Program Studi Ilmu Al-Qur’an
dan Tafsir
Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan
Pandanaran Yogyakarta
“Mama…
aku lulus..!” teriakku pada mama tercinta, tak pernah kukira aku benar-benar tak akan pernah kuinjakkan lagi kakiku
lagi di sekolah ini. Sejak kelulusan SMP
aku mulai tertarik pada b.arab, disinilah aku mulai ingin menimba dan menggali
segala kompetensi yang aku miliki di tempat suci ini.
Darul Lughah Islamic Center, yang terletak di sebuah desa.
jauh dari tempat bersejarah ku bahkan, beda kabupaten. ia inilah tempat
bersejarahku yang baru, yang akan kulalui hingga tiga tahun mendatang. Disini
aku akan membuka bibirku dan menyuarakannya dengan bahasa arab. Aku tak
mengerti, bisakah diriku melakukan hal ini?.
Dua tahun telah berlalu, masa kenak-kanakanku
benar-benar ingin ku lemparkan ke laut biru sana, tapi aku tak kuasa
melakukannya, hanya sedikit demi sedikit saja mungkin aku akan bisa, tuhan
bantu aku. Namun, setahun yang kelam, aku di angkat untuk selalu memberi contoh
yang baik kepada semua thalibat disekitarku. Aku pun, bingung dengan hal ini,
karena aku sendiri tak bisa menjaga diriku dengan baik.
Ramai, kudengar suara-suara yang sedang
bermuhadatsah[1]
dengan bahasa arab, ia itulah tempat yang sangat menyenangkan, menyedihkan
terkadang dan cukup membuat diriku bersemangat dalam mencari ilmu.
Semua thalibat yang telah lama kukenal sejak
dua tahun yang lalu kini semakin bertambah dari hari kehari. Suasana ini
membuatku senang. Begitupun sehabatku, muallimah juga uswatun. Sebut saja
mereka lim dan uus. Aku sayang mereka sama halnya mereka menyayangi diriku.
Akupun tak pernah lelah berteman bersama mereka meskipun, terkadang kita sering
bertengkar. Yang aku lelahkan di ma’had ini saat peraturan yang dirubah setiap
saat.
“Huft capek kalau cara kita seperti ini, mending
kita ngelanggar aja dech, meskipun kita juga pengurus,!” keluhku, “tapi tak
apalah vha, anggap aja ini adalah sebuah rintangan yang harus kita lalui” lim
menyanggahku. Sedang uus hanya menggeleng-gelengkan kepalanya..
“Yaudah dech temen-temen kita tidur aja dech
besok kan kita harus sekolah” uus membuka mulutnya, ” owh oke dech” serentak
aku dan lim menjewabnya. Inilah percakapan kami sebelum kami memejamkan mata.
@ @ @
“Bangun-bangun” uus bergegas untuk membangunkanku dan lim,
“ya” jawabku. Lalu, kami bersama-sama pergi ke hammam[2]
mengambil wudhu’, kemudian, kami berjama’ah bersama di mushalla, namun,
ternyata kami telat. “yach… gara-gara kamu nich vha, kita kan jadi telat” keluh
lim, “yach,,, di ta’dzir[3]
dech” uus-pun mengeluhkannya, karena kami sama-sama tak ingin di ta’dzir. Huuu
ya capeknya jika kami benar-benar dita’dzir karena ta’dzirannya bukan main,
membaca surat At-taubah berdiri di siang hari, serta diumumkan oleh mudzir
ma’had[4]
didepan semua santri. Baik thullab maupun thalibat. Waduch, malu dech.! Kata
hatiku saat itu.
“Ya udah maaf deh” sesalku. Mereka hanya
mengangguk dan menerima semua yang akan terjadi. 04:45, tepat. Kami
bersiap-siap untuk ta’lim[5].
Tet… Tet… bel berbunyi yang bertanda
bahwa ta’lim akan benar-benar dimulai.
“Lari..” teriakku agar tak terlambat. “Hufh akhirnya
kita gak terlambat juga” . bibirku berkata saat telah sampai di tempat dengan
terengah engah. Untung ditahun ini kelas kita sama, andai saja kita tak bersama
seperti dulu mungkin, aku tak bisa merasakan hal yang terindah dalam hidupku.
Akhirnya taklim selesai juga, kitapun
bersiap-siap untuk berangkat sekolah, mandi bertiga, makan bertiga, berangkat
bertiga, intinya kemana-manapun kita bertiga terus. Sampai semua teman-teman
yang lain memanggil kita trio ‘wek-wek’ ih… jijik banget, aku malah paling gak
suka di panggil itu.
06:35 kita pasti berangkat ke sekolah
bersama-sama. Karena kita wajib sampai kesekolah tepat pada jam 06:50. Karena
peraturan pada jam itu diwajibkan membaca al—qur’an bersama-sama dikelas.
Inilah yang harus kulalui setiap hari. Lelah, jenuh dan membosankan namun, aku
harus tetap bersemangat karena, memang inilah yang harus aku lalui.
Bahagia, sudah pasti. Ketertarikan akan selalu
berada di penjara suci ini. Karena aku akan bertemu pujaan hatiku. Inilah sisi kesenaganku saat beajar, akan
bertemu dengannya. Ia tersimpan sudah lama dalam jiwaku, sejak aku mualai
menimba ilmu di pesantren ini, aku tau dia sejak kelas satu aliyah, tapi,
sebelumnya aku membecinya sangat membencinya. Mungkin karena semua
teman-temanku selalu gojlokin aku dengannya, aku jadi tertarik juga. Malu
dech.. gumamku.
aku
selalu senang didekatnya, meskipun aku tak pernah berbicara dengannya, aku
malulah jika aku harus bercakap-cakap padanya, serasa ingin berada didekatnya
dan selalu bersamanya. Namun, karena sekolah dibawah naungan pesantren. Jadi,
kata trennya sih pacaran, itulah hal sangat dilarang. Jadi kita tak pernah
bersama-sama. Ya… walau ada juga yang dekat dengannya.
Jarum jam pun berputar begitu cepat, sunyi,
sepi, dan hening pun terasa dalam benakku. Dan tiba-tiba “Vha?” hah? Kaget, aku
pun bertanya-tanya siapakah yang memanggilku? Sepertinya aku kenal siapa dia.
Ternyata benar ia memanggilku, akupun menatap matanya begitu lama, matanya yang indah serta menunjukkan
kesungguhan cintanya padaku, mungkin, hehe..
hati kecilku, “ada apa” hampir aku lupa bahwa ia tadi memanggilku.
“Ia ivan, kau memanggilku kah?” jawabku dengan
gugup. Aku pun penasaran apa yang ia ingin tanyakan.
“Oea kemaren pas mosba ngabisin berapa?
Kira-kira masih ada sisa ngak?” tanyanya dengan agak malu, karena ia jarang
berbincang denganku, ya kecuali mengenai hal penting saja. Oia aku baru ingat
bahwa ia adalah atasanku, ia sekretaris dalam osis dan aku adalah seorang
bendahara dalam organisasi ini, makanya aku tambah dekat dan kenal dia.
“Owh.. ya, tapi aku gak bawa bukunya, ntar aku
hubungi lewat hp pondok ya, emang mau dibuat apa van?” Tanyaku dengan hati agak
senang, sedikit.
“gak dibuat apa-apa kok aku Cuma pengen tau
aja, soalnya pak jun tadi tanya”
“Ya, aku hubungi kamu aja ya,,, tunggu ja”
Panas akan terasa dingin, seluruh keringat yang
berlumuran di sekujur tubuhku tiba-tiba menghilang begitu saja. Ivan, andai kau
tau isi seluruh hatiku ini, mungkin kau tak akan berhenti mengusap pipimu,
namun, entahlah! Biarlah ia tahu sendiri.
Lambat laun, suasana yang tak pernah ingin aku
lalui, ternyata telah berlalu. Namun, akhirnya aku dan ivan akan melalui jalan
satu arah. tuhan, apakah ini mimpi?.
“Shivha?” dengan nada kaku.
“Ia ivan ada apa?” sautku. Inikah malaikatku?
Apakah tuhan mendengarkan doaku? Iyakah ini ? sungguh, di atas mimbarlah aku
akan terasa gugup, diatas panggunglah aku akan tersipu malu, didepan kelaslah
aku akan di serang kawan-kawan ku. Namun, impianku berbeda, hati kecilku
berkata ‘tidak’. Akankah ivan ingin berkata lebih serius?. Tanyaku tanpa henti.
“lihat mataku”. Shet, serentak kami berhenti. Memandang wajahya begitu
cerah, indah, sulit ku alihkan pandangan ini darinya, bahkan, iapun menyamaiku.
“kamu tau hati ku? Kamu perasaanku? Taukah
kesungguhanku padamu vha?, taukan, dari dulu sudah kukatakan padamu, aku sayang
kamu, kau pun tak pernah lepas dari pikiranku!” bibir mungilnya pun, akhirnya
melontarkan semua curahan hati kecinya.
Aku lumpuh, bibirku kaku, bingung, semuanya
kini tiba didepan bola mata mungilku, dan hanya bisa “ia, aku tau, lantas apa
yang kamu inginkan dari ku”
“bisakah kau simpan hatimu untukku kelak,?”
“apa yang akan kamu lakukan jika aku bisa?”
Tanyaku serius.
“Jadilah teman hidupku vha!” ajaknya.
Detik ini, tak kuasa aku gambarkan suasana
seperti apa? Dag-dig-dug, jantungku bedetak begitu kencang, “ia aku mau, asal
kamu juga harus bisa menjaga perasaanku sebagai wanita”.
“oke aku janji vha”. Ikrarnya, “aku harap kau
bisa mengerti” jawabku.
Kulangkahkan kakiku tanpa henti, ingin ku
berlari dari pandangannya, namun, aku tak mampu.
Akhirnya aku tiba di penjara suci lagi,
aktivitas kujalankan seperti biasa. Tak kuasa kutahan bendungan mutiara di
mataku ini. Kuteteskan juga, bukan berarti aku marah, aku senang mengalami hal
tadi dengannya.
“Vha,,,! Lima tabassamti miraran mundu anif..?
” tanya lim dari belakang. “Ekhem-ekhem,,, cie-cie.,,,” sambung uus.
“Udah udah mba’, yuk kita taklim ajalah.. ntar telat lho…”
ajakku juga mengalingkan pembicaraanku karena malu.
@ @ @
Detik demi detik telah kulalui, waktu berjalan
begitu cepat, hari-hari kulalaui seperti biasanya, hingga tepat pada jam 23:30,
pikiranku tak pernah lepas tentangnya, ternyata begitu indah akhirnya 2tahun
lamanya pangeran yang telah lama aku nanti dan yang selalu hadir dalam lelapku
kini, datang begitu saja. Membawa berjuta-juta pintu yang memanjakanku untuk
merasa gembira setiap saat.
Haqqan, uhibbuka fillah ivan, insyaAllah!,
tuturku dalam hati. Hm. Hingga kupejamkan mataku dengan penuh harapan tuk
berjumpa dengannya. Nice dream.
@ @ @
“Istaiqhidna ukh,” ia suara itu tak asing lagi
digendangku, oia aku baru ingat, itu suara para pengurus. Setiap ahdzan akan
berkumandang, dengan pasti para pengurus ma’had ini saling membangunkan
thalibat untuk sshalat berjama’ah. Terutama shalat subuh.
Taklim, telah berlalu di pagi yang cerah ini,
tiba-tiba mudzirku memberitahukan bahwa, minggu depan kita semua akan pulangan.
Yes ! teriakku dalam majlis. Upz.. aku hampir lupa. “Heh,!” uus menegurku
dengan seram. “Ya, afwan,!” jawabku.
@ @ @
“Seanggun warna senja menyapa, bersambut musim
yang dijalani semoga bintang penuh harapan, menggugah rasa rasa tuk ingin
selalu bersamanya…! Oow,,,ow,,o,,” sengaja ku lantunkan suara lembutku dalam
kesunyian ini. Hm,,, andai ivan di sampingku.
“Aku senang akan pulang, juga sedih mb us, kita
kan akan pulang, dan yang pasti aku akan lama tak bertemu ivanku,,” keluhku
pada uus, yang tiba-tiba muncul didepanku dengan senyuman manisnya.
“Ia dek, aku ngerti,,, udahlah sabar aja, ntar
kan anti bisa hubungi dia,” mencoba menenagkan keresahanku. “oke dech”,
senyumku.
@ @ @
“Hore…! Mama,,, abah, aku
datang,,!”. Ia, 15 januari 2013, aku benar-benar kembali ke tempat bersejarahku
ini, menatap pintu rumah yang begitu indah pun, dihiasi dengan ukiran-ukiran
yang begitu sulit kutebak, sempat hatiku menimbulkan pertanyaan. Apakah ukiran
itu?.
“Iya vha,!” ia, jawaban itu yang
kunanti dari tadi. Mama, seorang bunda yang sangat kusayangi dari dulu dan
ialah yang bisa buat aku tenang dalam menghadapi setiap masalahku. ‘Syukran
mama’, gumamku dalam hati.
“Kamu dah pulang nak?” mama membuka
pembicaraan, serta mengajakku kedalam ruangan itu. Kamipun bercakap-cakap
basa-basi.
Aku senang bertemu mama dan aba,
yang mungkin merekapun menanti kehadiranku, entah, karena rindu atau baggaimana
aku bingung.
@ @ @
Kutarik nafas sedalam mungkin,
menghirup segarnya suasana akan terbitnya matahari, Kicauan burung pun
seakan-akan menyapaku, yang telah lama kunanti selama aku bersama teman-teanku
disana. Maha besar Tuhan telah menciptakan alam dan seisinya ini, tugas kita
hanyalah bersyukur tiada henti.
“Shivha, shivha,,,” teriak mama
memanggilku, “ia ma”, akupun mendatanginya. Lalu mama melebarkan bibirnya
dengan manis. Sungguh indahnya.
“Shivha”, mama mengawali pembicaraan
ini, tegang rasanya. Melihat mama yang begitu serius.
“Ia ma, ada apa e?”,
“vha, dengarkan mama berbicara, diam nak, dan
jangan membantah ya.”, pintanya. Aku mengangguk.
“Ridahallahu fie ridhal walidaien, washuhtullah
fie shuhtil walidaien, kamu
tau tentang ini kan vha, kamu ikut ya nak apa yang abamu katakan nanti. Sana
nak, pergi ke abah. Ia memanggilmu dan ingin berbicara sebentar pada padamu.”
Apasih maksudnya semua ini? Sungguh aku
bertanya-tanya, namun, akau hanya bisa terdiam.
“Vha, kemarin ada seseorang yang datang untuk
meminagmu, sungguh aku pikir kau telah pantas
untuk mendapatkan hal ini. Lagi pula dirimu sudah dewasa. Besok acaranya
ya, kamu persiapkan dirimu nak, maafkan aba. Aba gak bisa menolak”. Tuturnya
dengan mubasyarah tanpa ada basa-basi.
Ivan, ia
ivan. Bagaimana dengan dirinya tuhan?
Ingatanku pada ivan begitu kuat. akhirnya kuteteskan jua bendungan air mataku
yang tak kuasa tuk kutahan. kakiku kaku, aku ingin merangkul ivan dan
mengeluarkan seluruh amarahku ini. Namun, aku tak bisa.
Tiba-tiba mama mengahampiri dan memelukku dan
mencoba tuk menenagkanku. “Sabar nak, jangan bantah peraturan. Yang namanya
perajurit harus patuh pada atasan, meskipun itu salah menurutmu”.
“Aba jahat ma, apa salah shivha? Shivha benci
aba ma, shivha masih ingin seneng-seneng ma, bukan sengsara kaya ini. Ini akan
menyiksa batinku. Mama.. aku harus gimana?” tangisku dengan nada yang tinggi.
Gila, aku benar-benar gila. Mengapa hal ini
harus terjadi padaku. Apa salahku tuhan..? please help me. Apa yang harus aku katakan
padanya tuhan?. Aku tak suka semua rencana ini. Dert,, dert.. nada handphoneku
berdering, ku angkat. Dan ternyata ia pujaanku. Ivan, aduch.. aku bingung apa
yang harus kukatakan. Mencoba tenang dan “assalamualaikum.” Ia mulai.
“Waalaikasslam, ivan”
“Kaifa hauk ukhti?”
“Alhamdulillah bikhoir, yumkin bibarokati
dua’ik”
“Subhanallah Alhamdulillah, shivha aku ingin
ngomong sesuatu, boleh?”
“Ada apa ivan”, dengan agak ragu. “Ia boleh
tafadhol”
“Begini vha, aku telah berbicara panjang dengan
orangtuaku tentang perasaanku padamu”. Ya ampun tubuhku bergemetar dengan tiba-tiba.
“Terus vha, seluruh keluargaku sudah setuju
akan pertungan kita nanti, bagaimana vha? Kamu siapkan? besok aku kerumahmu
tepat jam 8:00pagi”.
Aku pencet tombol merah itu, bukan karna aku
telah muak mendengarkan suara ivan, namun, aku tak kuasa menahan semuanya.
Maafkan aku ivan, gumamku. Tiap detik dengan tanpa henti, kuteteskan air mataku,
bibirku selalu bergerak tanpa henti, dengan rasa kebingungan. Seakan-akan aku
berada di gelapnya dunia.
Pagipun tiba, detik mulai berjalan dengan
cepat, jarum jampun mengahntuiku, teng.! Tepat jam 8:00. Tok tok tok, ya tuhan
ia diakah ?
Tiba-tiba, mama membukakan pintu itu, sengaja
ia lebarkan bibirnya untuk mama, dan melangkah secara perlahan. “Silahkan
duduk” mama mengawali pembicaraan itu. “ibu, saya ivan teman shivha, bisakah
saya bertemu ayah shivha?”
“ia nak, bisa tunggu ibu panggilkan dulu ya..!
Ayahpun datang menghampiri tamu-tamunya itu,
tanpa basa-basi ayah ivan langsung
berbicara secara inti. “maaf pak sebelumnya, ini ivan temennya shivha, ia telah
lama menyukai shivha. Kedatangan kami kesini hanya satu, yaitu melamar shivha
anak bapak!” dengan percaya diri ia menyampaikannya.
Tiba-tiba ekspresi ayah sangat tidak nyaman
diihat, ia bingung harus bagaimana, “maaf pak, dengan sangat hormat saya
memohon maaf pada anda bahwa anak saya kemaren sudah dilamar orang, maafkan
kami pak”...!
“Ia
pak, santai aja, ivan juga sudah punya cadangan lain....”
“Oh,,
begitukah?”
“Iya
pak, ya sudahlah kami pulang ya, kami ada acara jam 10:00.”
“Ya
monggo... “
Dengan
sedih hati mereka pulang, bapak ivan serta ivan mungkin sangat malu dan kecewa,
tapi bagaimana lagi? Entahlah,,, mungkin keadaannya memang harus sepert ini.
Tak lama kemudian, sebuah ponsel
dengan layar lebarnya berdering sangat kencang, saat kulihat ternyata ia Ivan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar