Minggu, 11 Oktober 2015

wayang dan masyarakat



WAYANG dan MASYARAKAT
Oleh:
Eva hanifah
Mahasiswi Sekolah Tinggi  Agama Islam Sunan Pandanaran
Program Study Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Setelah sehari umat islam merayakan hari raya idul adha atau yang sering kita sebut dengan hari raya Kurban, kami para mahasiswa sataispa bersama-sama pergi kegunung Kidul guna menonton wayang, yang mana sebenarnya wayang cukup penting untuk kita terutama orang awam yang benar-benar tidak faham dengan agama islam.
sekitar satu jam perjalanan, akhirnya kami telah sampai ditempat tujuan yaitu Gunung Kidul. Dengan  hormat para santri al-jauhar menyambut kami dengan sangat baik. Tepat jam 20;30 wib acara dimulai dengan resmi. Sambutan dengan bahasa yang sangat santunpun disampaikan oleh kepala daerah. Dengan pasti penyambutan terhadap kami.
Para penonton wayang cukup ramai, berbagai kalangan warga hadir dalam acara tersebut, baik kalangan tua maupun kalangan para pemuda. Mereka terlihat sangat senang dengan Wayang yang sedang dipersembahkan, memang asyik bagi orang yang mengerti dengan bahasa yang dibicarakan. menarik dan menyenangkan karna pada umumnya berdakwah melalui wayang sangatlah mudah untuk dipahami oleh masyarakat.
Pada zaman modern saat ini para pemuda enggan dengan adanya wayang, karna Negara kita sebenarnya sedang dijajah secara diam-diam oleh Negara amerika, terbukti banyaknya produk-produk yang telah masuk kenegara kita dan kebanyakan para pemuda pemudi Indonesia banyak meniru budaya barat, westernisasi (kebarat-baratan). Contohnya pakaian yang terbuka, film, musik, dsb. Sehingga mereka tak peduli dengan apa ynag sebenarnya kita ketahui, melalui wayang seharusnya mereka bisa memahami nilai-nilai islam yang ada sehingga mereka berhenti mengikuti dan meniru budaya barat.
Dakwah wayang ada pada saat para waliullah kita berdakwaah melalui wayang, dakwah yang dilakukan oleh sunan kalijaga salah seorang penyebar islam dipilau jawa pada abad 16 kono katanya, dan sunan kalijaga ini menggunakan wayang kulit sebagai dakwahnya, yang antara lain memasukkan kalimat syahadat di dalamnya sehinnga dikenal dengan Kalimat sada.
Kalima sada atau kalimat syahadat itu bermula dari ‘ka’ yang artinya ada lima ka yang tidak boleh terpisah. Kadonyo (keduniawian): kebutuhan duniawi yang kita kejar tetapi tidaak boleh kita utamakan, kahewanan (sifat binatang): tidak boleh bertindak atau bersiakp seperti binatang ex: amoral dll. karobanan: yang mana tidak boleh mengumbar hawa nafsu karna hawa nafsu harus dikendalikan, kasetanan: tidak boleh bertingkah yang semestinya atau gengsi, sombong (ingin seperti tuhan) menyesatkan dan berbuat licik, katuhanan: kosong, dalam artian tuhan kita, Allah tidak bisa digambarkan atau di definisikan, tapi toh memang ada. Dan inilah juga yang disampaikan dalam pewayangan tersebut  Sebagai pembuka.
Bukan hanya kalimat syahadat yang terkkandung didalamnya itu, kemarin saat perwayangan, di jelaskan juga tentang islam, iman dan ikhsan pula. Meskipun umumnya banyak masyarakat yang telah mengetahui tentang itu tapi, itu hanya sebagai pengingat saja bagi masyarakat gunung kidul, karna terbukti pada keterangan-keterangan yang ada, bahwa masyarakat gunung kidul tidak banyak mengetahui tentang islam, iman maupun ihsan. Tetapi setelah adanya pesantren Al-jauhar yang baru saja berdiri disana, sedikit demi sedikit masyarakat gunung kidul mengerti akan hal itu, apalagi setelah diadakan perwayangan.
seperti tentang cara sholat yang benar seperti apa? Hukum sholat, makna sholat, tata cara sholat dan betapa pentingnya sholat bagi kehidupan manusia. Sangat jelas para dalang-dalang pewayangan menyebut dan menceritakan hal-hal tersebut. Bukan hanya tentang sholat tetapi tentang zakat, puasa, haji. Begitupun dengan iman. yang mungkin sulit untuk kita jelaskan kepada orang awam pada umunya, tetapi dengan cara pewayangan, mereka akan lebih faham dan yakin terhadap agama  islam yang sesugguhnya.
Dan juga terdapat banyak hal  yang disebutkan tentang penyakit hati misalnya, tamak, serakah, “ngapain punya harta banyak, wong gak mungkin dibawa mati” salah satu contoh dll. Juga dengan akhlaqul karimah yang memang harus tertanam dalam diri kita. Yang juga diiringi suara merdu para sinden dan musik tradisional mulai jaman dahulu yang sangat menarik hati para pengunjung. masyarakat dan para tokoh yang dapat kami lihat dalam acara perwayangan tersebut sangatlah antusias. Sehingga dengan ramainya para pengunjung, terlihat sangat menarik perhatian masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar