WAYANG dan
MASYARAKAT
Oleh:
Eva hanifah
Mahasiswi
Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan
Pandanaran
Program Study
Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Setelah sehari umat islam merayakan hari raya idul adha atau yang
sering kita sebut dengan hari raya Kurban, kami para mahasiswa sataispa
bersama-sama pergi kegunung Kidul guna menonton wayang, yang mana sebenarnya
wayang cukup penting untuk kita terutama orang awam yang benar-benar tidak
faham dengan agama islam.
sekitar satu jam perjalanan, akhirnya kami telah sampai ditempat
tujuan yaitu Gunung Kidul. Dengan hormat
para santri al-jauhar menyambut kami dengan sangat baik. Tepat jam 20;30 wib
acara dimulai dengan resmi. Sambutan dengan bahasa yang sangat santunpun
disampaikan oleh kepala daerah. Dengan pasti penyambutan terhadap kami.
Para penonton wayang cukup ramai, berbagai kalangan warga hadir
dalam acara tersebut, baik kalangan tua maupun kalangan para pemuda. Mereka
terlihat sangat senang dengan Wayang yang sedang dipersembahkan, memang asyik
bagi orang yang mengerti dengan bahasa yang dibicarakan. menarik dan
menyenangkan karna pada umumnya berdakwah melalui wayang sangatlah mudah untuk
dipahami oleh masyarakat.
Pada zaman modern saat ini para pemuda enggan dengan adanya wayang,
karna Negara kita sebenarnya sedang dijajah secara diam-diam oleh Negara
amerika, terbukti banyaknya produk-produk yang telah masuk kenegara kita dan
kebanyakan para pemuda pemudi Indonesia banyak meniru budaya barat,
westernisasi (kebarat-baratan). Contohnya pakaian yang terbuka, film, musik,
dsb. Sehingga mereka tak peduli dengan apa ynag sebenarnya kita ketahui,
melalui wayang seharusnya mereka bisa memahami nilai-nilai islam yang ada
sehingga mereka berhenti mengikuti dan meniru budaya barat.
Dakwah wayang ada pada saat para waliullah kita berdakwaah melalui
wayang, dakwah yang dilakukan oleh sunan kalijaga salah seorang penyebar islam
dipilau jawa pada abad 16 kono katanya, dan sunan kalijaga ini menggunakan
wayang kulit sebagai dakwahnya, yang antara lain memasukkan kalimat syahadat di
dalamnya sehinnga dikenal dengan Kalimat sada.
Kalima sada atau kalimat syahadat itu bermula dari ‘ka’ yang
artinya ada lima ka yang tidak boleh terpisah. Kadonyo (keduniawian):
kebutuhan duniawi yang kita kejar tetapi tidaak boleh kita utamakan, kahewanan
(sifat binatang): tidak boleh bertindak atau bersiakp seperti binatang ex:
amoral dll. karobanan: yang mana tidak boleh mengumbar hawa nafsu karna
hawa nafsu harus dikendalikan, kasetanan: tidak boleh bertingkah yang
semestinya atau gengsi, sombong (ingin seperti tuhan) menyesatkan dan berbuat
licik, katuhanan: kosong, dalam artian tuhan kita, Allah tidak bisa
digambarkan atau di definisikan, tapi toh memang ada. Dan inilah juga yang
disampaikan dalam pewayangan tersebut
Sebagai pembuka.
Bukan hanya kalimat syahadat yang terkkandung didalamnya itu,
kemarin saat perwayangan, di jelaskan juga tentang islam, iman dan ikhsan pula.
Meskipun umumnya banyak masyarakat yang telah mengetahui tentang itu tapi, itu
hanya sebagai pengingat saja bagi masyarakat gunung kidul, karna terbukti pada
keterangan-keterangan yang ada, bahwa masyarakat gunung kidul tidak banyak
mengetahui tentang islam, iman maupun ihsan. Tetapi setelah adanya pesantren
Al-jauhar yang baru saja berdiri disana, sedikit demi sedikit masyarakat gunung
kidul mengerti akan hal itu, apalagi setelah diadakan perwayangan.
seperti tentang cara sholat yang benar seperti apa? Hukum sholat,
makna sholat, tata cara sholat dan betapa pentingnya sholat bagi kehidupan
manusia. Sangat jelas para dalang-dalang pewayangan menyebut dan menceritakan
hal-hal tersebut. Bukan hanya tentang sholat tetapi tentang zakat, puasa, haji.
Begitupun dengan iman. yang mungkin sulit untuk kita jelaskan kepada orang awam
pada umunya, tetapi dengan cara pewayangan, mereka akan lebih faham dan yakin
terhadap agama islam yang sesugguhnya.
Dan juga terdapat banyak hal
yang disebutkan tentang penyakit hati misalnya, tamak, serakah, “ngapain
punya harta banyak, wong gak mungkin dibawa mati” salah satu contoh dll. Juga
dengan akhlaqul karimah yang memang harus tertanam dalam diri kita. Yang juga
diiringi suara merdu para sinden dan musik tradisional mulai jaman dahulu yang
sangat menarik hati para pengunjung. masyarakat dan para tokoh yang dapat kami
lihat dalam acara perwayangan tersebut sangatlah antusias. Sehingga dengan
ramainya para pengunjung, terlihat sangat menarik perhatian masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar